BLOG PIETRO T. M. NETTI: RUMAH IDE DAN KREASI

Blog PIETRO T. M. NETTI (pietronetti.blogspot.com) adalah sebuah situs/blog pribadi atas nama PIETRO T. M. NETTI. Blog PIETRO T. M. NETTI (pietronetti.blogspot.com) adalah sebuah situs/blog yang dianalogikan sebagai RUMAH IDE DAN KREASI. Sebagai rumah, situs/blog ini menyediakan beberapa ruang yang nyaman yang dapat menampung Ide dan Kreasi dari Tuan Rumah.

PIETRO T. M. NETTI: Tuan Rumah RUMAH IDE DAN KREASI

Moto: “Laborare est Orare: Bekerja adalah Berdoa. Berdoa bukan hanya memejamkan mata melainkan juga membuka mata dan melihat kenyataan. Berdoa bukan hanya melipat tangan melainkan juga turun tangan dan melakukan tindakan nyata (SELAMAT PAGI TUHAN-ANDAR ISMAIL).” “Bermusik bagi Tuhan adalah wujud Sembah, Pujian dan Doa yang nyata di hadapan hadirat Allah (PIETRO T. M. NETTI).”

RUANG IDE: Opini PIETRO T. M. NETTI

Ruang untuk berpendapat secara jujur dan independen dari sudut pandang Tuan Rumah: Menyalurkan ide dan gagasan berhubungan dengan tema-tema tertentu (Opini), Memberi ulasan/liputan terhadap obyek/peristiwa/persoalan yang informatif, menghibur, meyakinkan, dan menggugah simpati dan empati (Feature), Menghadirkan kisah/cerita dari yang dilihat, didengar, dipikirkan, dirasakan, dan yang dilakukan (Non Fiksi).

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Feature. Show all posts
Showing posts with label Feature. Show all posts

August 31, 2025

Vox Populi, Non Dignitas Populi

Oleh: Pietro T. M. Netti

"Suara rakyat, bukan martabat rakyat" di-'google-translate'-kan menjadi "Vox populi, non dignitas populi".

February 6, 2024

Beda Pilihan Itu Biasa! Pindah Pilihan Itu Yang Tidak Biasa!

 Oleh: Pietro T. M. Netti


Sebenarnya kita yang generasi Orla-Orba plus generasi milenial setidak-tidaknya sudah memiliki ± 2-4 kali pemilu/pemilukada langsung. Kita juga seharusnya sudah tau trik-trik & narasi-narasi yang selalu dibangun di setiap musim pemilu.

Yang paling mencolok & masih melekat dalam ingatan adalah trik & narasi yang dibangun oleh pihak yang kalah pada pemilu 2014 & 2019 silam. 

March 21, 2018

Merajut Perbedaan Untuk Harmoni Nusantara



Oleh: Pietro T. M. Netti
Tuan Rumah RUMAH IDE & KREASI
           
Merajut Merah-Putih (image: antarafoto)
Mungkin saja tulisan ini dirasa tidak aktual atau kurang/tidak relevan dengan perkembangan bangsa saat ini? Tidak apa-apa, setidaknya di saat ide penulisan tentang topik ini muncul di awal tahun 2017 yang lalu sangatlah aktual dan relevan. Tapi rasa-rasanya topik ini masih tetap relevan dan (agak sedikit) aktual saat ini.

March 16, 2018

5 Cara Melindungi Akun Facebook Agar Tidak Bisa Di-“Hack” (2/2)



Oleh: Pietro T. M. Netti
Tuan Rumah RUMAH Ide & Kreasi

 
Kunci (image: theinquirer.net)
5 Cara Melindungi Akun Facebook Agar Tidak Bisa Di-“Hack” adalah lajutan dari tulisan sebelumnya  yang berjudul: “Waspada Pembajakan Akun Di Dunia Maya”.

Maraknya pembajakan akun media sosial (social media account) khususnya facebook akhir-akhir ini sudah sangat mengkhawatirkan. Berbagai aksi pembajakan telah menimpa beberapa akun facebook dari beberapa tokoh dan teman-teman “facebooker”.

Sebenarnya akun facebook (facebook account) kita bisa terproteksi dengan baik jika sejak awal kita sudah melakukan beberapa langkah untuk menjaga privasi dan keamanan “data login” di akun facebook kita. Hanya saja, langkah-langkah ini hampir atau bahkan sama sekali tidak menjadi perhatian kita di saat kita mulai membuat dan/atau telah memiliki akun facebook. Harusnya keamanan dan/atau perlindungan data/akun menjadi prioritas utama di saat kita mulai terlibat interaksi di dunia maya.

March 14, 2018

Waspada Pembajakan Akun Di Dunia Maya (1/2)

Oleh: Pietro T. M. Netti
Tuan Rumah RUMAH Ide & Kreasi
 
Image: gohacking.com
Tulisan ini adalah sebuah bahasan lanjutan dari "status" di "timeline" facebook saya sendiri atas nama Peter Netti. Status tersebut dibuat serhubungan dengan maraknya pembajakan/peretasan akun-akun media sosial oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tulisan ini adalah bagian pertama dari dua tulisan yang dimuat secara bersambung. Dan, tulisan kedua yang akan saya bahas adalah tentang  beberapa langkah mudah dan praktis yang dapat kita gunakan untuk tetap dan selalu waspada, dan sebisa mungkin dapat melindungi akun-akun kita dan/atau mencegah terjadinya aksi pembajakan/peretasan terhadap akun kita oleh para "hacker".

February 9, 2017

Mulut Sonde Jaga Badan


Oleh: Pietro T. M. Netti
Tuan Rumah Rumah IDE, KARYA & KREASI
 
Illustrasi: yogapermanawijaya
Menyimak perkembangan akhir-akhir yang sangat menyita perhatian di media-media sosial terkait curhatan sang mantan di twitter: “Saya bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri, ……”, maka saya tertarik untuk mengekspresikan buah pikiran saya dalam bahasa/dialek Kupang (Bahasa Melayu Kupang).

SARA, Senjata Pembunuh Made In Indonesia


Oleh: Pietro T. M. Netti
Tuan Rumah Rumah IDE, KARYA & KREASI
 
Illustrasi: tzarbom

Sebelumnya, tulisan ini telah dimuat di Kompasiana pada Senin dini hari, 6 Februari 2017 sebagai reaksi atas maraknya letupan-letupan yang mengusik ketentraman dan keharmonisan hidup sesama anak bangsa. Lagi-lagi SARA dijadikan sebagai kambing hitam yang sengaja dihembuskan oleh oknum-oknum tertentu untuk menciptakan kuda hitam yang siap berlaga di gelanggang politik. Berikut ulasan selengkapnya:

December 21, 2015

Cara Mengatasi Layar Laptop Yang Hanya Menampilkan Wallpaper Pada Windows 7

Gambar: portaloka.com

Judul di atas sempat membuat saya bingung, hilang akal dan putus asa ketika laptop kesayangan saya mengalami masalah tersebut. Entah penyebabnya apa tiba-tiba saja saat me-restart laptop, tampilan yang muncul pada layar hanya menyisakan wallpaper dan kursor. Penunjuk kursor yang nampak memang masih bisa digerakkan kemana-mana tetapi tidak berfungsi sama sekali. Klik kiri “No”, klik kanan pun “No”. Begitu pula seluruh icon software/program yang terinstallasi hilang lenyap tanpa bekas. Yang lebih membingungkan lagi adalah hilangnya tombol start menu yang tenggelam entah di dasar samudera mana.

“Oo…my God! Apa yang terjadi dengan laptop saya ini? Apa mungkin karena saya baru-baru ini tengah asik meng-install dan meng-uninstall beberapa program yang diperlukan dan tidak diperlukan? Mungkinkah proses install-uninstall yang saya lakukan itu menyebabkan terhapusnya beberapa program inti di laptop saya? Atau apa mungkin laptop saya sudah terinfeksi virus-virus mematikan? Atau apa mungkin, yang paling saya takutkan adalah, laptopnya rusak?”

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk di dalam kepala dan dada saya. Saya berusaha tenang-setenang-tenangnya untuk meredam rasa panik yang terus berkecamuk. Setelah agak tenang, muncul pertanyaan baru:

“Apa yang harus saya perbuat?”

Dengan berusaha tenang, saya mencoba bersikap arif untuk mengerahkan segala daya upaya yang kiranya bisa mengatasi masalah tanpa masalah. Langkah pertama, saya mematikan laptop dari tombol power, kemudian dihidupkan kembali, dan jreeenng….hasilnya tidak berubah alias tetap sama. Dengan kepala dingin lagi saya melakukan upaya lain sebagai langkah kedua yang mudah-mudahan ampuh, yakni: setelah mematikan dari tombol power, saya mencopot battery laptop kemudian dipasang kembali, dan laptop kembali dinyalakan/dihidupkan dengan harap-harap cemas. Dan ternyata langkah kedua yang biasanya ampuh ini menghasilkan output yang benar-benar di luar dugaan saya, yakni: lagi-lagi tidak berbeda alias masih sama.

Sebagai seorang yang hanya bisa menggunakan laptop (asli pengguna) tanpa pemahaman tentang masalah-masalah teknis yang berhubungan dengan software maupun hardware (perangkat lunak maupun perangkat keras), saya hanya bisa memannjatkan doa-doa tanpa bisa berbuat apa-apa. Memang setiap masalah yang datang harus dihadapi dan/atau diatasi secara cool. “Hati boleh panas tapi kepala harus tetap dingin!” Ternyata aksi yang saya lakukan di atas dengan mematikan dan menghidup dari tombol power, dan mencopot battery laptop masih merupakan tindakan panik yang tidak patut dicontohi. Itu adalah tindakan konyol yang bisa berdampak buruk pada kelangsungan hidup laptop.

“So, jangan ditiru!”

Karena masih dalam keadaan panik, hati panas dan kepala pun masih panas, maka saya dibutakan ingatan saya sehingga lupa kalau sebenarnya ada Om Gugel yang selalu bersedia setiap saat membantu siapa saja, kapan saja dan dimana saja, asal ada pengajuan permohonan/lamaran dan/atau pertanyaan secara resmi dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati.

“Kepada Yth. Om Gugel di tempat. Dengan hormat. Yang bertandatangan di bawah ini, Nama: ……(bla-bla-bla)……dst….. Bersama surat ini turut dilampirkan 2 permasalahan yang sungguh menyiksa hati dan pikiran saya: (1) cara mengatasi layar laptop yang hanya menampilkan wallpaper, dan (2) cara mengatasi tombol Start Menu yang hilang……….. Kiranya surat permohonan ini dapat ditindaklanjuti sebagaimana mestinya. Atas perhatiannya saya ucapkan limpah terima kasih.” (hehe…)  

Memang Om Gugel tidak turun tangan secara langsung, tapi Om Gugel akan langsung merespon dengan merekomendasikan orang-orang tertentu yang dikenalnya yang pernah mengalami hal/permasalahan yang sama dan sebangun dengan si pemohon, atau orang-orang yang memang memiliki kepakaran di bidang ilmu yang berhubungan dengan permasalahan yang diajukan. Dan tentunya orang-orang yang direkomendasikan dijamin mampu memberi solusi dan mengatasi masalah dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. 

Berikut ini adalah penjelasan singkat dan solusi/tips jitu ala @_kazuma (DapatMasalahDapatIlmu) yang datang atas rekomendasi Om Gugel:

“………… Kejadian di atas tidak hanya muncul pada Windows XP, pada Windows 7 juga mengalami kejadian seperti ini. Bagi pengguna Windows XP dan Windows 7 tidak perlu merasa kuatir, karena penyebab hilangnya Start Menu dan Tab Explorer dikarenakan oleh hal yang sama, yaitu tidak berjalannya proses explorer pada windows. Dan kabar baiknya, solusi untuk mengatasinya juga sama. Bagi yang sudah terbiasa menggunakan “Task Manager”, tinggal mengetikkan kata explorer pada Run dan tekan Enter maka proses explorer pun sudah berjalan kembali. ………...”

Tahapan-tahapannya sebagai berikut:

1) Tekan Ctrl + Alt + Del untuk memunculkan Task Manager!
Gambar: DapatMasalahDapatIlmu

2) Klik “File” pilih “New Task” atau “Run”!

3) Pada tampilan jendela yang muncul ketik “explorer” (tidak pakai tanda kutip)!

4) Tekan Enter atau klik “Ok”!
Gambar: DapatMasalahDapatIlmu

Setelah melakukan tahapan-tahapan di atas, tunggu beberapa saat dan lihat hasilnya. Pada kasus yang saya alami, sampai pada tahapan ini, terbayang  syair lagu “Akhirnya…kumenemukan-mu…!”

“Thanks, God, I got you!”

October 16, 2015

Sakitnya tuh di sini…! Di gigi ini…!


Oleh: PIETRO T. M. NETTI

Peringatan Penulis:

Tulisan ini sengaja dibuat bertele-tele, tidak “to the open” (maksudnya: to the point). Maklum napsu curhat lagi berada di puncak tertinggi! Sebenarnya poin dari tulisan ini adalah “cara mudah dan ampuh menghilangkan rasa sakit di gigi yang sangat membandel/menyiksa.” Jika pembaca ingin ikut menikmati “ke-bertele-tele-an-ku”, silahkan membaca tulisan ini dari awal hingga akhir! Tapi jika pembaca tidak sabar untuk langsung merenggut poinnya (apalagi yang sedang menderita sakit gigi), silahkan lewati saja bagian awal hingga mendekati bagian akhir, dan langsung saja menuju ke sasaran di bagian akhir dari tulisan ini! Selamat membaca, semoga bermanfaat!

“Oohh….sakitnya…!! Sakitnya tuh di sini…!! Di gigi ini…!!” (Sambil menunjuk ke arah gigi)
               
Itulah penderitaan yang kualami di awal tahun 2012 silam karena sakit gigi yang berlarut-larut dan berkepanjangan. Ya, rasa sakit yang belum pernah kualami sebelumnya walaupun masalah pada gigiku sudah terjadi sejak masa kanak-kanak. Pentingngya kesehatan gigi baru kusadari sejak rasa sakit yang tak tertahankan menyerang dengan dahsyatnya. Ungkapan “Sakit kok dipiara?!” menjadi penyesalan yang tak terlupakan.

“Nasi sudah menjadi bubur, mau diapakan lagi? Buburnya harus ditelan. Toh, bubur juga baik untuk penderita sakit gigi, tidak perlu bersusah payah untuk mengunyah dan mengunyah. Hehe….!”

Saking dahsyatnya, serangan-serangan tidak hanya tertuju pada area gigi/gusi semata, melainkan menjalar hingga ke seluruh area permukaan kulit wajah, kepala hingga ke leher dan pundak. Jika sakit menyerang maka tak ada lagi pijakan dan tumpuan untuk menopang. Semua area dari kepala, leher hingga pundak terasa sangat sakit jika disentuh. Padahal sentuhan juga merupakan sebuah terapi yang seharusnya bisa sedikit melegakan dan meredakan rasa sakit.

“Oohh…Tuhan…! Kenapa harus begini..? Tolong, Tuhan…! Aduuhhh…bangsaatt…! Pukara’a…! Mai pung fer…! Pung sakit lai…! Lebe bae mati sa…!”

Demikian kata-kata/kalimat-kalimat doa(?) bercampur makian/umpatan yang selalu terujar dari mulut tempat sakit bersarang saat serangan itu datang. Sebetulnya serangan-serangan awal bisa teratasi dengan  setengah tablet obat penenang (tak perlu disebut merknya, tapi inisialnya “P”), tapi ketenangan yang diharapkan tidak berlangsung cukup lama, hanya berkisar setengah hingga satu jam, dan kambuh lagi. Setengah tablet ditelan lagi….dan setengah lagi…..dan lagi…..hasil akhirnya tetap sama dan sebangun. Di hari-hari berikut dosis obat setengah tablet sudah tidak lagi berkhasiat sama sekali. Dosis ditambah menjadi menjadi satu/dua tablet setiap setengah dan/atau satu jam dan hasilnya sama saja. Malah muncul ketakutan akan terjadinya overdosis dari setengah-setengah dan satu-satu atau dua-dua tablet yang ditelan itu.

Di tengah rasa sakit yang menyiksa, kukerahkan seluruh daya ingatku untuk menggali kembali resep-resep atau ramuan-ramuan atau obat-obat lain yang pernah dipakai dulu. Teringat olehku salah satunya adalah obat cair/tetes (tidak perlu disebut merknya, tapi inisialnya “K”) yang cukup bahkan boleh dikatakan sangat ampuh menghilangkan rasa sakit pada gigi berlubangku dulu. Cara penggunaannya sangat mudah, obat tersebut diteteskan pada kapas, kemudian kapas tersebut dimasukkan ke dalam lubang yang ada di gigi. Hasilnya langsung terasa, hanya beberapa detik/menit rasa sakit berangsur-angsur hilang, walaupun area di sekitar samping lidah dan dinding pipi bagian dalam terasa sedikit panas seperti terbakar dan menebal, tapi kuabaikan saja. Yang kuinginkan saat itu ialah hanya satu: sembuh, sembuh dan sembuh (titik). Setiap saat ketika rasa sakit menghampiri, obat tetes “K” pun beraksi. Namun berkat keampuhannya, obat tetes “K” ini pula yang telah merenggut hampir seluruh gigi gerahamku saat ini.

“Lagi-lagi nasi sudah menjadi bubur, mau diapakan lagi? Buburnya harus ditelan. Toh, bubur juga baik untuk mereka yang tidak bergigi geraham, tidak perlu bersusah payah untuk mengunyah dan mengunyah. Hehe…!”

Penggunaan obat “K” sudah tidak mungkin dilakukan, karena masalah bukan lagi pada gigi yang berlubang, tapi pada akar-akar gigi yang masih tertinggal di gusi. Sebenarnya, jika mau, bisa saja kuoleskan obat “K” tersebut di permukaan gusi, tapi untuk menjaga agar gigi-gigi lain tidak ikut punah maka obat “K” ditendang keluar dari pikiranku. Resep-resep lain pun kucoba termasuk resep tradisional, mulai dari berkumur alkohol, obat kumur (tidak perlu disebut merknya karena memang lupa namanya),  air hangat dicampur garam, ramuan dengan bawang merah, bawang putih, dan rempah-rempah lainnya yang disebut-sebut dapat menghilangkan rasa sakit pada gigi, dan akhirnya berkunjung ke dokter. Hasilnyapun lagi-lagi sama.

“Aku tak sanggup lagi….menerima derita ini…. Aku tak sanggup lagi….menerima semuanya……!! Lebih baik sakit hati….dari pada sakit gigi ini….. Aku tak mengapa… Rela, rela… Aku rela, relakan…! Rela, rela… Aku rela, relakan…!”  

Itulah penggalan-penggalan syair lagu (tak peduli lagu pop atau dangdut) yang selalu terngiang di telinga di kala sakit menyerang. Rasa sakit yang kualami berlangsung hanya dalam waktu-waktu tertentu. Malam (mulai sekitar jam 22.00-05.00 pagi) adalah masa-masa penderitaan yang harus kutanggung sendiri; ……kumau tak seorang kan merayu//tidak juga kau…… (penggalan Sajak “Aku”-Chairil Anwar). Siang (mulai dari pagi 05.00-22.00 malam) adalah masa-masa bahagiaku, seolah tak ada masalah sedikitpun yang terjadi dengan gigiku. Begitu seterusnya hingga dua bulan lamanya. Bisa dibayangkan, dua bulan bukanlah waktu yang singkat untuk bisa bertahan dalam penderitaan dan nestapa.

Dalam kurun waktu dua bulan tersebut, banyak perkara yang kusimpan dalam hidup dan yang terjadi berhubungan dengan sikap ketidakmampuanku menghadapi rasa sakit yang terus menerpa. Sebagai manusia ber-Tuhan, doa selalu kupanjatkan di saat beban yang sangat berat terus menghimpit gerahamku. Sebagai manusia lemah, caci-maki dan umpatan pun turut mengiringi penderitaan yang kualami.

Itulah manusia yang memiliki dua sisi kehidupan sekaligus; sisi terang dan sisi gelap yang saling berhimpitan. Kekuatan dari Tuhan selalu diharapkan oleh setiap anak-anak terang untuk mampu menjalani semua kepahitan/kesesakan hidup termasuk yang terjadi dengan gerahamku. Namun rasa putus asa, menyerah dan tak berdaya pun turut membayangi di kala beban yang dipikul di gerahamku begitu beratnya. Percaya atau tidak, kejadian ini menghadirkan sebuah fakta unik dari sisi kemanusiaanku. Doa disambung dengan caci-maki/umpatan, dan sebaliknya caci-maki/umpatan digandeng dengan doa dikemas menjadi satu kesatuan yang utuh. Kuyakin hal ini sia-sia di hadapan Tuhan, tapi itulah yang terjadi.

“Ampunilah hamba-Mu, ya Tuhan-ku!”

Penderitaanku berakhir ketika tanpa sengaja (alias cuma iseng-iseng) kucoba melakukan resep yang sebenarnya sudah kutemukan saat “browsing” di awal-awal bulan pertama saat rasa sakit mulai membombardir. Namun karena sebegitu banyaknya ramuan yang telah kucoba satu per satu tidak juga membuahkan hasil, maka kutinggalkan begitu saja ramuan atau tip yang sebenarnya sangat ampuh ini. Soalnya, resep atau ramuan ini tidak menggunakan rempah-rempah apa pun, sehingga dalam pikiranku mana mungkin bisa memiliki khasiat(?). Penyesalan sempat datang: “Kenapa tidak tidak dilakukan sejak awal?” Kalau saja dilakukan sejak awal maka penderitaan akibat rasa sakit yang menjerumuskan pada kejadian-kejadian yang sia-sia (penuh dosa) tidak perlu terjadi.

“Ampunilah hamba-Mu, ya Tuhan-ku!”

Resep Pertama yang kuterapkan cukup ampuh, setidaknya bisa membuatku lega dari rasa sakit untuk beberapa puluh menit bahkan bisa sampai satu/dua jam.

“Terima kasih, Tuhan, atas resep yang telah kusia-siakan sejak awal!”

Setiap rasa sakit menghampiri, resep tersebut kulakukan sebagai senjata pembunuh, dan jreeeng…hilang rasa sakitnya. Begitu seterusnya hingga beberapa hari (malam) lamanya selalu jreeeng... Saya pun tidak perlu merasa kuatir dengan penggunaan resep ini secara berulang-ulang atau secara terus-menerus, karena resep ini sama sekali tidak mengandung bahan kimia berbahaya atau memberikan efek samping yang merugikan kesehatan secara medis dan tidak menyebabkan overdosis.

Setelah beberapa hari penggunaan resep ini, baru kusadari ternyata ada efek negatifnya juga di samping efek positifnya yang ampuh. Efek positif yang dirasakan adalah memang hilang rasa sakitnya sama sekali, sedangkan efek negatifnya adalah kecapaian dan kurang isterahat. Kenapa kecapaian dan kurang isterahat? Karena berselang hanya beberapa puluh menit atau satu/dua jam, terapi tersebut harus dilakukan lagi dan lagi hingga pagi menjelang, sehingga kesempatan untuk bisa tidur pulas di malam hari sangatlah sedikit. Sebenarnya resep pertama dengan efek positifnya ini sudah membuatku merasa sangat dan sangat nyaman, hanya saja jika melihat dampak negatifnya akan sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh dan jiwaku jika kulakukan dalam jangka waktu yang lama.

Akhirnya kuputuskan secara bulat dari lubuk hati terdalam untuk mencoba Resep Kedua yang juga telah kusia-siakan sejak awal penelusuran di mesin google. Dan ternyata resep kedua ini sangat-amat-terlalu ampuh dan mujarab. Rasa sakit yang menyiksa langsung hilang tak berbekas sama sekali, dan tidak perlu lagi melakukan terapi ini berulang-ulang sampai pagi sebagaimana yang kulakukan dengan resep pertama. Ketika rasa sakitnya hilang, tidak kurasakan sedikitpun tanda-tanda bahwa sebelumnya pernah ada rasa sakit yang begitu beratnya di gigi. Sekali lagi hilang tak berbekas. “Aneh bin ajaib!”

“Terima kasih, Tuhan, atas resep yang juga telah kusia-siakan sejak awal!”

Jika diingat-ingat, penerapan resep kedua ini berlangsung hanya sekali atau paling banyak dua kali dalam semalam (rata-rata hanya sekali). Semenjak penggunaan resep kedua ini, tidur lelap di malam hari pun telah menjadi bagian terindah dalam hidupku yang hilang dalam dua bulan terakhir. Resep kedua ini pun sama sekali tidak memiliki efek samping yang berbahaya bagi kesehatan, karena sebagaimana resep pertama, resep kedua ini pun tidak mengandung bahan-bahan kimia berbahaya, dan juga tidak (sekali lagi: tidak!) membuat pengguna mengalami overdosis atau ketagihan.

Bagi para pencinta sakit gigi yang segera ingin pindah ke lain hati, sebaiknya menerapkan resep kedua ini. Dijamin, resep kedua ini sangat (sangat 10x) ampuh menyelesaikan permasalahan sakit yang menghimpit gigi anda. Buktinya, sampai dengan detik ini (saat menulis artikel yang bertele-tele ini, di tahun 2015 ini) yang kurasakan adalah: “bebas…lepas…kutinggalkan semua beban di ‘gigiku’….melayang kumelayang jauh…!” (Bebas-Iwa K)

Awal penggunaan resep kedua ini memang dirasakan kejutan sakit (nyut-nyut) seperti tertusuk (dalam bahasa Kupang: ta tikam) pada sumber sakitnya. Tapi tidak perlu kuatir, karena “nyut-nyut” dan/atau “ta tikam” tersebut hanya berlangsung sekejap/sekilas/sesaat/sekedip. Kalau boleh digambarkan, rasa tersebut hanya muncul sekali dalam waktu cuma sedetik kurang. Dan rasa ini selalu terjadi setiap kali resep kedua ini dilakukan.

Dan terakhir adalah Resep Ketiga sebagai resep utama atau resep kunci dari kedua resep di atas. Sebanyak apapun resep pertama dan kedua dilakukan, atau sebaik apapun manfaat dan khasiat resep pertama dan kedua, jika tidak melakukan resep ketiga maka anda belum mampu move on ke lain hati. Anda akan terus dan harus melakukan resep-resep tersebut sampai tua. Jadi jangan abaikan resep ketiga ini jika anda ingin kembali merasakan “Sakitnya tuh di sini…!” (sambil menunjuk gigi)!

Demikian tulisan yang sangat bertele-tele ini yang sampai di titik inipun belum tertera poin-poin pentingnya secara gamblang.

“Terima kasih untuk anda yang masih setia membaca hingga detik ini! Walaupun anda dikategorikan sebagai seorang pemberontak dan/atau pembangkang yang tidak mengindahkan peringatan di awal tulisan ini, tapi anda adalah tipe pembaca/penyimak yang setia dan sabar!”

Kini saatnya tabir dibuka untuk diketahui, pergunakan dan dilaksanakan secara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Boleh percaya, boleh tidak, tapi kupercaya yang telah kulakukan, yang telah kualami dan yang telah kurasakan. Perubahan rasa itu nyata, dan selamat tinggal sakit gigi!

Resep Pertama : Berkumur dengan Air Es.
Resep Kedua      : Berkumur dengan Air Panas (Bukan Air Hangat, bukan pula Air Mendidih).
Resep Ketiga      : Jaga pola makan yang baik untuk mencegah naiknya Asam Lambung.

Selamat mencoba!
[http://www.kompasiana.com/pietronetti/sakitnya-tuh-di-sini-di-gigi-ini_56200601e122bde7068b4568]

January 17, 2015

“Maling Kandang”: Cerita Pengantar Tidur Rakyat

Ilustrasi: Kompasiana

Oleh: Pietro T. M. Netti

Malin Kundang

Membaca judul di atas, sekilas mungkin saja perhatian kita tertuju pada nama/tokoh Malin Kundang, si anak durhaka; si anak biadab yang tega menyangkali ibu kandung-nya sendiri demi mempertahankan gengsi dan ego di hadapan istri dan pengikut-pengikutnya. Tentu kita semua pernah mengetahui dan/atau mendengar cerita tentang Malin Kundang si anak durhaka tersebut. Betapa cerita tersebut begitu membumi di seluruh pelosok negeri ini. Cerita ini hampir selalu menjadi cerita pengantar tidur oleh seorang ibu kepada anak-anaknya semasa kecil.

Cerita lokal asli Padang (Sumatera Barat) ini memang patut diceritakan kepada anak-anak agar kelak tidak durhaka kepada orang tuanya, khususnya durhaka kepada sang ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anak tercintanya, sebagaimana yang dilakukan oleh si biadab Malin Kundang. Kita sebagai anak harus tetap menghormati orang tua kita apapun keadaan dan keberadaan mereka. Hukuman Tuhan adalah nyata dan pasti bagi mereka yang tega menyangkali, mengkhianati, dan/atau yang durhaka kepada orang tuanya apapun alasannya.

Maling

Judul “Maling Kandang”: Cerita Pengantar Tidur Rakyat muncul ketika melihat pemberitaan di televisi (Selasa, 13 Januari 2015) seputar penetapan calon tunggal Kapolri, Komjen Budi Gunawan, sebagai tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Semula ada beberapa judul yang terbersit dalam pikiran saya untuk dijadikan sebagai judul tulisan ini: Si Jenderal Maling, Si Penangkap Maling Ternyata Maling Juga, Maling Kakap Berbintang Tiga, dan Maling Berseragam Polisi.  

Keempat draft judul tersebut memiliki satu kata kunci yang sama yakni kata Maling.

“Ya, Maling!”

Saya lebih memilih kata maling untuk dilekatkan pada para pelaku korupsi daripada menggunakan kata koruptor itu sendiri. Walaupun hal ini dapat dikatakan sebagai meringankan beban yang harus dipikul oleh para koruptor atau bahkan bisa katakan sebagai sedikit memulihkan nama baik para koruptor yang seharusnya lebih bejat dari maling-maling biasa.

Sebenarnya koruptor adalah istilah yang tepat untuk mereka yang disangkakan melakukan tindak pidana korupsi (Baca definisi Korupsi menurut Wikipedia dan Kajian Pustaka!). Namun menurut feeling saya, koruptor yang seharusnya memiliki makna pelaku kejahatan bejat atau busuk telah mengalami degradasi makna yang cenderung membuat pelaku maupun keluarga pelaku merasa bangga dengan status tersebut.

Para pelaku korupsi saat digiring aparat pun masih berjalan dengan dada membusung dan kepala terangkat. Tidak jarang lambaian tangan bak nyiur melambai dan tebaran senyum ala selebriti menghiasi kamera para awak media. Hal ini pun didukung dengan perlakuan aparat keamanan yang masih menunjukkan sikap respect yang berlebihan kepada si pelaku-pelaku busuk dan bejat ini.

Beda halnya dengan apa yang terjadi pada pelaku maling ayam, pelaku maling jemuran dan pelaku maling lainnya. Sejak penangkapan di Tempat Kejadian Perkara (TKP), sudah pasti sang pelaku telah memperoleh banyak hadiah dari warga dan aparat. Hadiah bogem mentah di sekujur tubuh menjadi hadiah andalan bagi para pelaku, dan/atau bahkan hadiah timah panas di paha, betis atau kaki mereka.

Dalam keadaan seperti ini para pelaku sudah pasti meringis kesakitan, sibuk menyembunyikan wajah mereka agar kalau boleh mereka tidak dikenal oleh teman-teman dan kerabat-kerabat mereka. Jangankan senyum, lambaian tangan pun mustahil dilakukan dalam kondisi fisik dan psikis yang sudah ditekan dan tertekan ini. Jika ada pelaku maling ayam atau maling jemuran atau pelaku maling-maling lain yang bisa tersenyum dan melambaikan tangan maka patut dipertanyakan kondisi kesehatan jiwanya di dokter jiwa. Dan saya berani bertaruh, sudah pasti kondisi kejiwaannya terganggu alias “gila”.

“Mungkinkah para pelaku korupsi juga memiliki kondisi kejiwaan yang terganggu alias gangguan jiwa alias sakit jiwa alias gangguan mental alias sakit mental alias tidak waras alias gila?”

Maling Kandang & Malin Kundang

Sebenarnya topik Maling Kandang yang saya angkat dalam tulisan ini tidak 100% identik dengan cerita Malin Kundang. Nama Malin Kundang dibawa-bawa dalam tulisan ini hanya karena penyebutan dua suku kata awal (“Ma” dan “lin” = “Malin”) yang hampir mirip dengan kata Maling. Kata Maling, menurut hemat saya, sangat cocok untuk dilekatkan pada diri pelaku korupsi menggantikan kata/istilah “keren” koruptor.

“Kok Keren???”

Ya, kata/istilah koruptor disebut “keren” karena seharusnya kata/istilah ini menunjuk pada pelaku kriminal yang luar biasa (extra ordinary crime) yang artinya juga seharusnya luar biasa bejat-nya, luar biasa busuk-nya dan luar biasa bobrok-nya. Tetapi kata/istilah ini telah mengalami pergeseran makna 180 derajat yang terkesan menjadi luar biasa hebat-nya dalam mengangkat harkat dan martabat pelaku, keluarga dan sanak familinya seperti yang telah saya paparkan di atas (Lihat Maling!).

Maling Kandang dipakai karena hampir mirip pengucapannya dengan Malin Kundang. Di samping itu, nama ini juga dipilih untuk menyetarakan para maling yang seharusnya bejat dan seterusnya itu dengan para maling ayam dan/atau para maling jemuran dan/atau para maling lainnya. Malangkandang saya tujukan kepada para pelaku korupsi yang idealnya memiliki watak dan mental maling, kepribadian nyolong, dan harkat dan martabat rendahan yang tidak berbeda dengan para pelaku maling pada umumnya yang cenderung dianggap lebih hina itu. Mereka, para koruptor, sebenarnya jangan merasa diri lebih hebat atau lebih bermartabat.

Jika mau disamakan, boleh juga, para koruptor sama hinanya dengan para maling, yakni memiliki mental, kepribadian, harkat dan martabat yang sama dengan para maling. Tetapi jika mau dibandingkan maka para koruptor sudah pasti lebih hina, lebih bejat, lebih busuk, lebih bobrok mental, kepribadian, harkat dan martabatnya daripada para maling. Dikatakan lebih hina, lebih bejat dan seterusnya, karena dampak yang ditimbulkan oleh aksi para koruptor ini luar biasa besar kerusakannya bagi hidup dan kehidupan rakyat miskin/kecil.

Sekali lagi, Maling Kandang adalah tipe manusia biadab di negeri ini yang berwatak maling, gemar merampok di kandang tetangga dan/atau merampas jerih payah dan hasil usaha/keringat orang lain. Maling Kandang adalah pribadi yang tidak memiliki hati nurani yang tega merampas hak hidup sesama anak bangsa yang lain yang justru hidup berkekurangan. Maling Kandang adalah tipe manusia bermuka badak dan berhati srigala yang bangga bersenang-senang di atas penderitaan rakyat miskin/kecil. Masih banyak lagi hal-hal nista yang layak di-copy-paste-kan pada diri para Maling Kandang tak bermoral ini.

Maling Kandang v.s. Malin Kundang

Jika kita menghadap-hadapkan kedua nama/tokoh yang sama-sama bereputasi bejat ini, maka kita bisa melihat ada beberapa persamaan dan/atau perbedaan yang mencolok, sebagai berikut:
  1. Maling Kandang adalah tokoh cerita yang nyata yang berasal dari pemberitaan di dalam cerita kehidupan yang nyata (kisah nyata) pula. Sedangkan Malin Kundang adalah tokoh cerita fiktif yang berasal dari legenda (cerita rakyat).
  2. Maling Kandang hidup bergelimang harta dengan cara tidak terpuji, yakni sengaja menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri/orang lain, mencuri uang milik rakyat, dan bersenang di atas penderitaan sesama di negeri sendiri. Sedangkan Malin Kundang, setahu saya, juga hidup bergelimang harta dan hidup sukses tapi karena usaha dan kerja keras di negeri orang (perantauan).
  3. Maling Kandang adalah tokoh yang berkelas ekonomi menengah ke atas atau tokoh elit kaya yang ingin terus menjadi kaya dan kaya dengan cara-cara busuk dan bejat hanya karena nafsu dan keserakahan. Sedangkan Malin Kundang adalah sosok pemuda miskin yang juga berasal dari keluarga miskin yang berusaha dan bekerja keras untuk bisa keluar dari jeratan kemiskinan diri dan keluarga (Mohon dikoreksi jika salah!).  
  4. Maling Kandang dan Malin Kundang adalah anak-anak durhaka. Jika Malin Kundang adalah anak yang durhaka kepada ibu kandungnya yakni tidak mau mengakui ibu kandungnya yang telah melahirkan dan membesarkan, maka Maling Kandang adalah anak bangsa yang durhaka kepada ibu pertiwi yang telah memberi kehidupan dan perlindungan.
  5. Jika dalam cerita Malin Kundang terdapat pesan moral yang berhubungan dengan kesombongan, keangkuhan, tidak tau diri, lupa diri, dan kedurhakaan kepada orangtua yang tidak boleh ditiru, maka dalam cerita Maling Kandang menghadirkan pesan moral dua kali lebih banyak dari cerita Malin Kundang. Pesan moral yang patut dikutuk dari kisah nyata Maling Kandang ini selain seperti yang terkandung dalam kisah Malin Kundang adalah: rakus, serakah, mementingkan diri sendiri, mencuri dari kepunyaan/hak milik dan hak hidup rakyat kecil atau orang-orang miskin, bersenang-senang di atas penderitaan rakyat, dan seterusnya, dan seterusnya (Lihat di atas!).
  6. Sebagaimana cerita Malin Kundang memberi pesan moral kepada setiap anak agar tetap berbakti kepada orangtua  dalam kondisi apapun keadaan mereka, kisah Maling Kandang inipun memberi pesan moral kepada setiap anak bangsa untuk tetap menjaga ibu pertiwi apapun keadaannya tanpa mengambil apa yang bukan menjadi haknya.
  7. Hukuman Tuhan untuk si Malin Kundang adalah nyata dan pasti, kapal yang ditumpangi dan seluruh isi kapal karam dan menjadi batu. Begitu pula dengan hukuman Tuhan untuk si Maling Kandang akan nyata dan pasti pula seiring perputaran roda waktu. Ungkapan “Kalau bukan sekarang kapan lagi” sudah ditakdirkan Tuhan untuk tidak berlaku bagi para Maling Kandang, melainkan “Kalau bukan sekarang pasti nanti”. Fakta telah membuktikan bahwa banyak pelaku korupsi yang terjerat jauh hari setelah masa keemasan mereka.
  8. Malin Kundang telah menjadi cerita rakyat yang melegenda yang sarat dengan pesan moral untuk tidak ditiru oleh anak-anak terhadap orangtuanya. Maling Kandang pun patut menjadi cerita bagi seluruh rakyat Indonesia  yang diangkat dari sebuah kisah nyata di negeri tercinta ini yang memiliki pesan moral yang lebih sarat lagi agar bisa dihindari oleh segenap anak bangsa di masa-masa yang akan datang untuk kemajuan bersama.

Penutup

Tulisan ini hanya merupakan buah pikiran saya sebagai rakyat kecil (yang samasekali tidak memiliki power apa-apa) yang terperangah melihat maraknya kasus-kasus korupsi yang terjadi sebegitu massif-nya. Sebagai rakyat, saya hanya bisa mendukung gigihnya upaya pemberantasan maupun pencegahan korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Maju terus, KPK! Kalau bukan sekarang pasti nanti!”

Akhir kata, kalaupun dalam tulisan ini terdapat kata-kata yang terasa kasar dan/atau yang kurang berkenan, jangan simpan di hati. Ini semata-semata bentuk ekspresi kegemasan saya secara pribadi melihat kenyataan yang sebenarnya sangat memprihatinkan nasib bangsa dan negara ini ke depannya yakni menuju Indonesia Jaya, Indonesia Makmur dan Indonesia Sejahtera.

“Aku cinta… Anda cinta… Kita cinta INDONESIA!”

[http://hukum.kompasiana.com/2015/01/17/maling-kandang-cerita-pengantar-tidur-rakyat-696961.html]

November 29, 2014

KPK Menjemput “Bola Pertama” Di NTT

Marthen Dira Tome (Gambar: Pos Kupang)

Oleh: Pietro T. M. Netti

Tuan Rumah RUMAH IDE & KREASI

Senin, 17 November 2014, suasana Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Nusa Tenggara Timur di Jl. Jend. Soeharto, depan kampus Universitas Nusa Cendana lama, dikejutkan dengan kedatangan sejumlah aparat berseragam Brimob Polda Nusa Tenggara Timur dengan bersenjata lengkap. Kedatangan anggota Brimob secara mendadak ini sempat membuat panik para pegawai di dinas setempat yang baru saja melaksanakan apel pagi (Apel Kesadaran tiap tanggal 17).

“Mungkinkah ada kasus tindak kejahatan/kriminal yang sedang terjadi? Atau mungkinkah ada teror yang dilancarkan oleh orang tidak dikenal yang mengancam keselamatan kantor dan karyawan?”

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mengemuka di benak pegawai-pegawai saat itu. Suasana baru sedikit mencair ketika di antara kurang lebih sepuluh personil Brimob tersebut terdapat pula aparat penegak hukum lainnya yang mengenakan rompi yang bertuliskan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Walaupun demikian, suasana tetap menegangkan, karena kehadiran para aparat penegak hukum ini (KPK) tidak disangka-sangka sebelumnya oleh para karyawan.

“Kami tidak menyangka sama sekali KPK akan datang! Tidak ada pengumuman atau pemberitahuan sebelumnya!”, ungkap beberapa karyawan.

Kehadiran KPK di Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi NTT terkait dengan penyelidikan kasus tindak pidana korupsi dana Pendidikan Luar Sekolah (PLS) tahun 2007. Kasus korupsi ini melibatkan Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome, yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Bidang PLS. Status orang nomor satu di Kabupaten Sabu Raijua telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, setelah sekian lama terkatung-katung di Kejaksaan Tinggi NTT.  

Menurut Juru Bicara KPK, Johan Budi, dalam pengelolaan dana PLS ditemukan penyaluran dana yang tidak sesuai peruntukkannya yang menyebabkan kerugian negara sebesar Rp. 77 miliar (Pos Kupang).

Penetapan status tersangka kepada Marthen oleh KPK ini menjadi sorotan tersendiri bagi masyarakat NTT pada umumnya, mengingat NTT adalah salah satu Propinsi yang belum pernah dijamah oleh KPK sebelumnya. Dari sekian banyak kasus korupsi di Indonesia yang ditangani, dan sekian banyak tersangka koruptor yang ditetapkan oleh KPK, belum ada satupun kasus korupsi di NTT yang ditangani oleh KPK. Begitu pula dengan belum adanya satu pun tersangka koruptor di NTT yang ditetapkan oleh KPK.

Memang telah banyak tersangka kasus korupsi yang sudah ditangani oleh pihak Kepolisian dan Kejaksaan dan dijebloskan ke dalam penjara, tapi tingkat kepuasan masyarakat belum sepenuhnya terobati jika bukan KPK yang menanganinya langsung. Mengingat pula pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi ini memang untuk memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya.

“Para koruptor seharusnya digilas sendiri oleh KPK!”, demikian harapan masyarakat NTT.

Saat ini masyarakat NTT mulai melihat titik terang pemberantasan korupsi di NTT, walaupun masih banyak kasus yang diduga menyelewengkan uang negara ini belum sepenuhnya tersentuh oleh KPK. “Bola pertama” telah dijemput KPK, dan kiranya KPK akan terus menjemput “bola-bola” berikutnya yang masih bebas “menggelinding” di tanah Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor) baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten/kota.

[http://regional.kompasiana.com/2014/11/28/kpk-menjemput-bola-pertama-di-ntt-689030.html]

November 28, 2014

“Tamatan Malaysia” Rata-Rata Sakit Jiwa

Toga (Gambar: smpinovatif.com)

Oleh: Pietro T. M. Netti

Tuan Rumah RUMAH IDE & KREASI

Ada fenomena unik yang saya jumpai sendiri saat saya berkesempatan menetap dan bekerja selama beberapa saat di Pulau Batam dan Pulau Bintan di tahun 2000 silam. Dimana-mana di kedua pulau ini terdapat cukup banyak orang yang oleh warga setempat biasa dijuluki sebagai “Tamatan/Lulusan/Alumni Malaysia”.

Jika dilihat dari kehidupan para “alumnus” ini memang sangat memprihatinkan, tetapi begitulah kenyataan yang terjadi. Mereka adalah sosok-sosok yang tidak jelas atau lebih tepatnya tidak diketahui asal-usul dan latar belakang identitas, keluarga dan kewarganegaraannya. Teman-teman saya mengatakan bahwa para alumnus ini ada yang berasal dari Vietnam, Philipine, India, negara-negara tetangga lainnya di Asia Tenggara dan Asia, dan juga sebagian lagi berasal dari Indonesia sendiri yang tidak bisa kembali ke kampung halamannya masing-masing.

Para lulusan Malaysia ini menghabiskan hidup keseharian mereka di jalan-jalan, di emperan-emperan toko, tapi tanpa meminta dan mengharapkan belas kasihan orang-orang di sekelilingnya. Ya, mereka hidup dengan cara mereka sendiri tanpa berniat membebani orang lain. Mereka bukan preman yang hidup dengan mengandalkan kekerasan dan/atau pemerasan. Mereka juga bukan gelandangan dan pengemis yang mengulurkan tangan untuk sekeping/dua keping rupiah walaupun banyak orang yang turut merasa berbelas kasihan dan iba kepada mereka. Mereka juga bukan pelaku kriminal atau bahkan teroris walaupun kadang suka membuat onar dan menebar teror.

Mereka adalah para “Tamatan/lulusan/alumni Malaysia” (istilah yang dilekatkan pada diri mereka). Ya, para tamatan/lulusan/alumni ini adalah mantan pekerja keras di negeri Jiran Malaysia yakni para mantan tenaga kerja yang akhirnya dideportasi keluar dari Malaysia. Yang aneh dari para mantan tenaga kerja ini adalah bahwa mereka semua mengalami gangguan jiwa akut alias tidak waras atau gila. Ada cerita yang berkembang bahwa sebagian besar dari mereka sebelumnya adalah tenaga kerja illegal yang ditangkap dan telah menjalani masa hukuman di Malaysia dan kemudian dideportasi. Rata-rata mereka memiliki bekas luka cambuk di bagian punggung, dan anehnya rata-rata dari mereka menjadi berangsur-angsur tidak waras setelah dideportasi.

Telah menjadi pengetahuan umum bahwa pemerintah kerajaan Malaysia hingga saat ini memberlakukan hukum cambuk (sesuai Hukum Syariat) kepada setiap pelanggar hukum di negeri Jiran ini. Bekas cambukan di tubuh mereka akan menjadi kenang-kenangan abadi bagi mereka yang pernah melakukan tindak kriminal. Yang belum menjadi pengetahuan umum bagi kita adalah: “Kenapa sebagian besar mantan tenaga kerja termasuk Tenaga Kerja Indonesia dan/atau Tenaga Kerja Wanita (TKI/TKW) yang pernah bekerja di negeri serumpun ini selalu menderita sakit jiwa/tidak waras/gila setelah dideportasi atau setelah pulang kampung?”

Selama berdomisili di Batam (3 bulan) dan di Bintan (9 bulan), saya sempat mendapatkan informasi-informasi dari warga setempat yang membuat trenyuh, karena informasi-informasi tersebut sungguh tidak bisa diterima oleh akal sehat saya. Entah benar atau tidak benar, itulah informasi yang saya dengar. “Setiap orang gila yang ada di Batam/Bintan pastilah tamatan/lulusan/alumni dari Malaysia!” demikian pendapat-pendapat warga di dua pulau di Kepulauan Riau ini.  

Semula saya berpikir jika para tamatan Malaysia ini kemungkinan besar mengalami stress berkepanjangan sebagai akibat dari siksaan, hukuman dan pendeportasian yang mereka alami yang akhirnya menyebabkan mereka mengalami gangguan jiwa. Dugaan siksaan yang menimpa para tenaga kerja ini juga diakui oleh sebagian warga sebagai salah satu pemicu terjadinya gangguan jiwa walau diakui sangat kecil kemungkinannya. Saya juga berpikir jika para tamatan Malaysia ini, lagi-lagi, mengalami stress mengingat begitu kerasnya kehidupan di Batam dan/atau di Bintan yang harus dijalani. Namun dugaan saya tersebut langsung dibantah oleh sebagian besar warga masyarakat. “Kalau alasannya stress tentang kerasnya kehidupan, kitapun pasti sudah gila sejak lama!”

“Lantas apa yang sebenarnya terjadi dengan nasib para Wisudawan Malaysia tersebut?”

Melihat fenomena orang gila yang tidak diketahui asal-usulnya ini yang juga adalah mantan tenaga kerja di Malaysia ini, saya mendengar banyak sekali pendapat warga yang senada. Saat ditanya: “Siapa orang-orang itu?”, jawabannya selalu sama: “Tamatan dari Malaysia!” Jika ditanya lagi: “Kenapa mereka menjadi tidak waras atau gila?”, jawabannya singkat, padat dan jelas: “Disuntik laah…!”

Sekali lagi, telah menjadi “pengetahuan umum” bahwa hukum di Malaysia masih memberlakukan Hukum Cambuk yang merupakan penerapan dari Hukum Islam/Hukum Syariat. Yang belum menjadi “pengetahuan umum” adalah: “Kenapa sebagian besar mantan tenaga yang pernah bekerja di negeri serumpun ini selalu menderita sakit jiwa/tidak waras/gila?” Namun demikian, ada satu hal yang sudah menjadi “rahasia umum” bahwa negeri Jiran inipun melaksanakan Hukum Suntik (istilah sendiri) kepada tenaga kerja yang berkewarganegaraan asing(?). Walaupun Hukum Suntik ini mungkin saja bukan termasuk dan/atau tidak dikenal dalam Hukum Syariat di Malaysia, namun banyak pihak yang membicarakan tentang pemberlakuan Hukum Suntik ini di Malaysia.

Dikatakan bahwa hukum suntik ini tidak serta-merta membuat korban langsung menjadi tidak waras/gila, tapi secara berangsur-angsur suntikan maut tersebut akan merusak sel/jaringan syaraf otak. Isu suntik gila yang, katanya, diberlakukan oleh oknum aparat penegak hukum di Malaysia kepada para tenaga kerja illegal yang kemudian akan dideportasi ini dimaksudkan agar para tenaga kerja illegal ini tidak akan kembali lagi ke Malaysia dengan status yang sama (illegal) untuk mengadu peruntungan mereka. Dikatakan pula bahwa menurut aparat keamanan di Malaysia, “sekali illegal akan tetap illegal”. Setelah disuntik, mereka dipastikan tidak akan kembali lagi ke Malaysia karena pastinya mereka akan mengalami hilang ingatan setelah dideportasi.

Tentu pendapat-pendapat warga di pulau Batam dan Bintan ini tidak harus ditelan bulat-bulat, bisa saja “salah”, tapi bisa juga “benar”. Apapun bisa terjadi! Oleh sebab itu, perlu ada investigasi dan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan salah-benar-nya pendapat/cerita yang sudah berkembang luas di tengah masyarakat ini. Hal inipun perlu menjadi perhatian serius Pemerintah Indonesia dalam hal ini pihak-pihak terkait/berwajib, dan/atau Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli pada penegakan Hak Asasi Manusia untuk menelusuri dan mengungkap fakta dan kebenarannya. Jika saja benar sesuai dengan tuturan masyarakat di atas, maka kebijakan yang diterapkan oleh pemerintahan Malaysia ini sungguh sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Negara/kerajaan yang mengusung Syariat Islam ini akan dikenal sebagai negara dan bangsa paling biadab di muka bumi ini (butuh pendalaman dan pembuktian lebih lanjut).

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang, juga terdapat banyak kasus serupa yang luput dari perhatian pemerintah maupun pemberitaan media. Para korban yang akhirnya menderita gangguan jiwa tersebut juga rata-rata adalah mantan tenaga kerja yang pernah bekerja di Malaysia. Sebagaimana kita ketahui, NTT juga tercatat sebagai salah satu penyumbang tenaga kerja terbesar di Indonesia untuk dipekerjakan di Malaysia dan beberapa negara lainnya. Kasus human trafficking pun marak terjadi di NTT. Masih lekat dalam ingatan kita, kasus yang menimpa Nirmala Bonat, TKW asal Timor, yang mengalami penyiksaan di luar perikemanusiaan oleh majikannya di Malaysia. Dan masih banyak lagi kasus yang sama dialami oleh saudara/i kita yang berasal dari daerah lain di Indonesia. Pihak keluarga hanya bisa pasrah menerima keadaan apa adanya dan tidak bisa berbuat banyak karena tidak tahu harus mengadu kemana(?).

Saya juga sempat kaget membaca tulisan seorang Kompasianer (----) beberapa hari yang lalu (24/11/2014), yang membeberkan data TKI di daerahnya, Jawa ----, yang mengalami gangguan jiwa. Dalam tulisan tersebut tercatat TKI yang pernah bekerja di Malaysia, 70% diantaranya mengalami gangguan jiwa saat kembali ke daerah asalnya. Sebuah data yang sangat mencengangkan! (Lihat: ---) Dan tulisan itu pun menginspirasi saya untuk menceritakan fakta-fakta yang berhubungan dengan para TKI yang mengalami gangguan jiwa seusai bekerja di Malaysia. Ada benang merah di antara data di Jawa --- tersebut dan fakta-fakta yang terjadi di berbagai pelosok negeri.

“Mungkinkah sekian banyak kasus serupa (kasus gangguan jiwa) yang terjadi di berbagai pelosok negeri ini yang menimpa para TKI kita hanya sebuah KEBETULAN belaka? Mungkinkah KEBETULAN saja sama-sama pernah bekerja sebagai tenaga kerja di Malaysia, dan saat kembali ke tanah air KEBETULAN pula sama-sama mengalami gangguan jiwa?”

Melihat kasus-kasus yang terjadi dan yang menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan/atau Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri, khususnya, di Malaysia, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Tenaga Kerja perlu memberikan jaminan keamanan yang pasti dan bantuan hukum yang memadai bagi mereka. Dalam pemberitaan-pemberitaan, para TKI kita yang bekerja di luar negeri sering mendapat perlakuan yang tidak bereprikemanusiaan dari majikan-majikan mereka. Kasus hukum yang dialami dan tuntutan hukum yang dikenakan kepada para TKI/TKW pun tidak adil, cenderung mengada-ada dan malah terkesan semena-mena.

Lebih khusus lagi, Pemerintah dalam hal ini aparat terkait/berwenang (entah apa itu namanya) perlu menganalisa penyebab gangguan jiwa yang terjadi pada kebanyakan tenaga kerja kita yang rata-rata pernah bekerja di Malaysia. Dan yang terakhir, bila perlu, Pemerintah bisa mengerahkan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk mengusut dan/atau menelusuri isu Hukum Suntik atau Suntik Gila yang marak diperbincangkan tersebut.

Sekali lagi, mengakhiri tulisan ini, saya ingin menggarisbawahi dan mempertegas kembali pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengusik hati dan pikiran saya sekian lama sejak tahun 2000 silam. Pertanyaan-pertanyaan yang mengusik ini kiranya bisa menjadi perhatian kita semua, khususnya bisa menjadi perhatian serius dari Pemerintah Indonesia ke depannya dalam rangka melindungi segenap bangsa Indonesia:

“Mungkinkah sekian banyak kasus serupa (kasus gangguan jiwa) yang terjadi di berbagai pelosok negeri ini yang menimpa para TKI kita hanya sebuah KEBETULAN belaka? Mungkinkah KEBETULAN saja sama-sama pernah bekerja sebagai tenaga kerja di Malaysia, dan saat kembali ke tanah air KEBETULAN pula sama-sama mengalami gangguan jiwa?”

“Only heaven knows!”

[http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/11/26/tamatan-malaysia-rata-rata-sakit-jiwa-688790.html]