Oleh: Pietro T. M. Netti
"Suara rakyat, bukan martabat rakyat" di-'google-translate'-kan menjadi "Vox populi, non dignitas populi".
Beginilah jadinya saat ini jika menganggap rakyat telah dibayar lunas harga suaranya beserta harga dirinya saat pileg/pilpres lalu.
Suara rakyat mungkin bisa dibeli, tapi tidak untuk harga diri, harkat & martabat rakyat.
Bagaimana mungkin rakyat/masyarakat yang menginginkan pembubaran DPR dikatai "tolol" bahkan "paling tolol sedunia" oleh wakilnya sendiri? Bukankah rakyat yang pantas mengatainya sebagai wakil yang "tolol" bahkan "tertolol sedunia"?
"Tolol" karena tidak mewakili rakyat yang sedang sekarat, tidak menyuarakan aspirasi rakyat, tidak memperjuangkan kesejahteraan rakyat, tidak memiliki rasa simpati & empati dengan keadaan rakyat, bersenang-senang di atas penderitaan rakyat, dll., & yang paling fatal adalah menginjak harga diri, harkat & martabat rakyat sendiri.
"Kini saatnya menuai & menikmati badai!"








0 comments:
Post a Comment