March 29, 2015
Mengenal Penulisan Notasi Angka Dalam Birama 6/8
Oleh: Pietro T. M.
Netti
Tuan Rumah RUMAH IDE & KREASI
Pada beberapa tahun silam saya pernah disodorkan teks lagu
dalam notasi angka yang benar benar sangat membingungkan. Lagu tersebut adalah
lagu yang terambil dari himpunan nyanyian Dua Sahabat Lama (DSL) No 108
“PERSEMBAHAN DIRI”, salah satu lagu yang terdapat di dalam Liturgy Kebaktian
Minggu Pra Paskah (Minggu Sengsara). Lagu tersebut adalah lagu yang akan
dinyanyikan oleh para peserta Katekisasi pada prosesi Peneguhan dan Pemberkatan
sebagai anggota Sidi Baru.
Saya katakan sangat
membingungkan karena penulisan simbol-simbol notasi tersebut tidak sesuai
dengan apa yang telah saya pelajari dan pahami sebelumnya tentang membaca dan
memainkan notasi angka. Bahkan apa yang muncul dalam pikiran saya saat itu adalah
bahwa penulisan simbol notasi yang membingungkan
itu mungkin saja “salah”. Tetapi
apakah memang mungkin penulisan simbol-simbol tersebut “salah”(?), sedangkan lagu yang disodorkan adalah teks fotocopy yang berasal dari sumber asli,
DSL.
Mungkin untuk sebagian kalangan pemain musik hal ini tidak
membingungkan, tapi bagi saya yang pada saat itu baru mulai menekuni (mempelajari)
not angka dan lagu/musik gereja benar-benar merasa kewalahan alias tidak bisa memainkannya samasekali.
Mungkin pula, jika ada pemain musik yang telah mengetahui lagu tersebut (bisa
menyanyikan) tidak akan mengalami kesulitan seperti yang saya hadapi saat itu,
karena tidak perlu lagi bersusah payah membaca simbol-simbol notasi yang “salah” itu.
Dalam not angka, biasanya, terdapat birama yang terdiri
dari sejumlah ketukan: lagu dengan birama 1
ketuk, 2 ketuk, 3 ketuk, 4 ketuk, 5 (3+2) ketuk, 6 ketuk, 6 (3x2) ketuk, 9
(3x3) ketuk, dll. Setiap not atau simbol seperti titik (.) atau nol (0)
yang berdiri sendiri adalah Not 1/4
dengan harga 1 (satu) ketukan. Not yang mendapat satu bendera adalah Not 1/8
dengan harga 1/2 ketukan, dua bendera
adalah Not 1/16 dengan harga 1/4
ketukan. Sejauh ini saya belum menemukan (mungkin ada) not dengan tiga bendera di dalam lagu-lagu not
angka; jika ada maka not tersebut adalah Not
1/32 dengan harga 1/8 ketukan (Lihat
Gambar!).
Kebanyakan lagu-lagu dalam Not Angka, bendera (garis di atas not) yang menentukan harga notasi tidak
digunakan pada satu not yang berdiri sendiri atau not tunggal. Biasanya bendera
(satu, dua atau tiga bendera), sejauh
pengamatan saya, menghubungkan satu not dengan not yang lainnya. Dalam lagu di
atas, bendera dipasang pada not
tunggal yang sangat menyulitkan saya untuk menemukan cara yang tepat untuk membaca/menyanyikan
dan memainkannya dengan musik. “Mungkinkah
ada kesalahan?” Seperti yang sudah saya katakan di atas, tidak mungkin
penulisan simbol bendera pada not tunggal
tersebut “salah”, karena memang teks
aslinya sudah seperti itu.
“Tetapi bagaimana
membacanya atau menyanyikannya atau memainkannya?”
Saya mencoba mencermati kembali satu per satu yang tertulis
di dalam teks lagu tersebut mulai dari Judul Lagu, Nada Dasar, Birama dan Isi
Lagu dari awal hingga akhir. Masalah baru pun muncul ketika saya menemukan birama lagu yang ditulis adalah birama
6/8. “Kok bisa biramanya 6/8?”
Padahal kalau mau dihitung-hitung, berdasarkan pemahaman saya, jumlah dan harga
not yang ada di setiap birama di dalam lagu tersebut tidaklah sesuai. 6/8
artinya ada 6 not 1/8 yang menjadi patokan tempo.
Jika kita menghitung berdasarkan penulisan pada lagu di
atas, not 1/8 berjumlah rata-rata hanya 2 not (bukan 6) di setiap biramanya. Bahkan
secara kasat mata, saya menghitungnya hanya terdapat 3 ketukan di setiap
biramanya. Pada birama pertama, misalnya, not 1/4 yang berharga 1 ketukan (tanpa
bendera) hanya terdapat 2 not, dan not 1/8 yang berharga 1/2 (atau yang
mendapat satu bendera) juga hanya ada 2 not. Berarti 1 + 1 + ½ + ½ = 3, atau secara berturutan bisa dihitung
sebagai berikut: 1 + ½ + 1 + ½ = 3. “Lantas
kenapa 6/8?” Lagi-lagi pertanyaan itu yang muncul (Lihat Gambar: tulisan
berwarna Hitam!).
Segala upaya saya kerahkan untuk mengungkap rahasia di
balik birama yang bertuliskan angka 6/8. Dari segi makna 6/8 yang sudah saya
sebutkan di atas, sudah jelas tidak bisa membuat saya sampai pada sebuah
kesimpulan yang tepat tentang cara membaca/menyanyikan/memainkan notasi lagu
ini. Fakta dan data pada teks lagu telah membuktikan tidak terdapat unsur 6 dan
8-nya samasekali.
“Apakah 6/8 itu?
Mengapa harus 6/8?” Sambil terus bertanya dalam hati, tiba-tiba muncul
sebuah titik terang yang menjuruskan saya pada sebuah kesimpulan sementara yang
mungkin saja akan menjadi kunci jawabannya. Saya teringat angka 6/8 juga ada
pada jenis irama musik (style musik)
yakni irama/style Slow Rock 6/8.
Irama Slow Rock adalah irama 4 ketukan dengan 6 not 1/8 menjadi patokan tempo.
Karena terdapat 4 ketukan dalam setiap biramanya maka 6 not 1/8 tersebut dikali
2 lagi (6x2) sehingga menjadi 12 not 1/8 di tiap birama. Atau, dengan kata
lain, dalam 4 ketukan, terdapat 3 not 1/8 di setiap ketukannya; 4x3=12 (4 ketuk
dikali 3 not 1/8 sama denga 12 not 1/8).
Berikut ini adalah cara membaca/menyanyikan/memainkan lagu
DSL 108 dengan penulisan simbol notasi yang lain tanpa merubah komposisi
lagu:
Hingga pada titik ini, tersingkaplah segala rahasia di
balik angka 6/8 yang sempat membingungkan dan melelahkan karena telah begitu
banyak menguras energi rasa dan energi pikir. Walaupun sempat “letih”, penyingkapan kode 6/8 ini
kembali memberi energi dan spirit baru yang menyegarkan hati dan pikiran saya
untuk terus menyingkap dan mengungkap segala tabir kegelapan yang masih penuh tanda tanya.
Tulisan ini merupakan catatan pribadi saya untuk
mendokumentasikan hasil kerja saya secara mandiri dalam mengupayakan agar sedapat
mungkin memahami (membaca/menyanyikan/memainkan) simbol notasi angka yang ada.
Cara penulisan simbol notasi seperti yang terdapat pada teks DSL tersebut,
menurut hemat saya, sudah jarang ditemukan/dipakai dalam pembuatan arransemen
lagu dengan notasi angka dewasa ini. Saya lebih cenderung mengatakan bahwa cara
penulisan simbol pada lagu DSL tersebut adalah penulisan “gaya lama” yang sudah tidak dipakai lagi saat ini(?).
Di samping itu, tulisan inipun menjadi pelajaran yang
mengingatkan diri saya sendiri agar ketika menemui arransemen lagu-lagu lain
yang masih menggunakan cara penulisan simbol yang serupa, maka cara
membacanya/menyanyikannya/memainkannya mengikuti pola yang ada. Upaya dan hasil
kerja ini tentu masih jauh dari kesempurnaan oleh karena keterbatasan referensi
yang saya miliki. Oleh sebab itu kritik dan saran sangat diperlukan untuk
memberi pencerahan kepada kita semua.
Semoga tulisan ini juga dapat menginspirasi dan memberi
manfaat bagi sahabat-sahabat pemain musik gereja yang lain yang mungkin saja mengalami
hal yang sama seperti yang saya alami sebelumnya. Shallom!
Buku Harian (Diary)
(Bahan Ajar Untuk Siswa/i SD Bertingkat
Naikoten 1 Kupang)
Oleh: Pietro T. M. Netti
(Komunitas Sastra Pukuafu)
PENGERTIAN BUKU HARIAN
Buku Harian atau
Diary adalah: sebuah catatan pribadi
yang berisi kegiatan atau kejadian yang kita alami sehari-hari (http://id.wikipedia.org/wiki/Buku_harian).
Apa yang kita catat/tulis di dalam Buku
Harian adalah:
- Kejadian penting,
- Kejadian menarik,
- Kejadian yang mengesankan,
- Kejadian lucu,
- Kejadian menakutkan, dll
FUNGSI BUKU HARIAN
Buku Harian (Diary) adalah sebagai
- Cerita: Kenangan masa-masa yang pernah kita alami.
- Catatan Sejarah kehidupan kita.
- Opini: Menuangkan ide-ide/pendapat yang terlintas dalam pikiran tentang suatu peristiwa.
- Curahan Hati (Curhat): mencurahkan/mengungkapkan emosi dan perasaan kita atas masalah yang dihadapi.
KATEGORI ISI BUKU HARIAN
- Buku Harian berisi tentang catatan-catatan harian yang bersifat pribadi. Karena bersifat pribadi maka Buku Harian hanya untuk disimpan dan dibaca sendiri oleh kita yang membuatnya. Buku Harian adalah sepenuhnya hak milik kita. Pada umumnya, Buku Harian bersifat pribadi/rahasia. Orang lain tidak diijinkan untuk melihat apalagi membacanya. Orang lain baru boleh membacanya jika kita sendiri yang mengijinkan.
- Ada pula Buku Harian yang ditulis dengan maksud agar orang lain juga bisa ikut membacanya. Buku Harian ini masuk dalam kategori umum/tidak rahasia. Biasanya Buku Harian ini berisi tentang pengalaman-pengalaman pribadi yang dinilai penting dan bermanfaat juga bagi orang, dan cerita-cerita kehidupan yang dikemas dalam bentuk puisi maupun prosa yang menggugah. Intinya, melalui Buku Harian yang kita buat, ada hal-hal positif dan pesan-pesan moral yang ingin dibagikan kepada orang lain agar bisa dijadikan sebagai motivasi dan pelajaran berharga.
ELEMEN DAN FORMAT BUKU HARIAN
Elemen Buku
Harian terdiri dari:
- Komponen Hari, Tanggal, dan Tahun
- Komponen Isi Buku Harian
Format Buku
Harian:
(https://zulkarnainidiran.files.wordpress.com/2008/11/contoh-bahan-ajar-sederhana-bi-smp-zul2008.pdf)
CARA MENULIS BUKU HARIAN
Ada berbagai cara menulis Buku Harian:
- Menulis dalam bentuk sandi-sandi rahasia jika isinya sangat bersifat pribadi/rahasia, sehingga jika orang lain yang membacanya tidak bisa mengerti.
- Menulis dalam gaya bahasa pergaulan sehari-hari sebagaimana bahasa lisan yang kita pakai.
- Menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baku sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
- Menulis dengan menggunakan berbagai gaya bahasa yang indah untuk menyampaikan ide/gagasan/pendapat, contohnya: menulis puisi atau prosa.
Dilihat dari Isi
Buku Harian, jika Buku Harian tersebut masuk dalam kategori pribadi/rahasia, maka bagaimana menulis buku harian, apa saja yang harus ditulis, dan gaya bahasa apa yang harus dipakai,
semua terserah kita. Kita bebas menulis apa
saja yang menurut kita patut ditulis dengan cara dan gaya kita
sendiri sesuai dengan seluruh Cara
Menulis Buku Harian di atas. Tidak ada orang lain yang berhak mengatakan, mengoreksi
dan/atau menilai bahwa apa yang kita buat/tulis di dalam Buku Harian kita itu salah atau harus begini atau harus begitu.
Namanya juga Buku Harian pribadi http://juragancipir.com/pengertian-buku-harian-dan-manfaatnya/).
Namun, jika catatan-catatan di dalam Buku Harian berkategori umum/tidak
rahasia, maka sebaiknya kita perlu memperhatikan bagaimana menulis buku harian yang
baik, apa saja yang harus kita tulis, dan gaya bahasa apa yang harus kita pakai. Berikut ini adalah beberapa
hal yang perlu diperhatikan:
- Saat menulis Buku Harian dengan kategori ini, kita perlu menggunakan bahasa yang mudah dimengerti sesuai dengan standar bahasa yang baik dan benar (Lihat: butir no 3. CARA MENULIS BUKU HARIAN!).
- Apa yang akan/harus kita tulis harus dipikirkan secara matang agar tulisan/catatan-catatan yang kita buat tersusun secara rapi, teratur dan masuk akal (sistematis), sehingga orang lain (pembaca) bisa dengan mudah mengikuti jalan pikiran kita.
- Penggunaan gaya bahasa (majas) sangat penting dalam tulisan/catatan-catatan dalam bentuk puisi maupun prosa (Lihat: butir no. 4 CARA MENULIS BUKU HARIAN!). Gaya bahasa (majas) adalah bahasa kiasan yang dipakai untuk mengungkapkan/mewakili pikiran dan perasaan dari kita sebagai penulis (http://id.wikibooks.org/wiki/Subjek:Bahasa_Indonesia/Materi:Majas). Biasanya bahasa kiasan yang dipakai akan memberikan kesan imajinatif kepada pembaca. Kesan imajinatif dapat diartikan sebagai kesan yang berhubungan dengan kerja akal dalam mengembangkan suatu pemikiran yang lebih luas dari apa yang pernah dilihat, dengar, dan rasakan (http://id.wikipedia.org/wiki/Imajinasi).
PENUTUP
Buku Harian,
bagi banyak kalangan, telah menjadi “sahabat”
(baca: media) tempat mencurahkan isi hati, emosi, dan perasaan, tempat mengadu
dan berkeluh-kesah, dan menjadi tempat menuangkan ide dan pendapat secara
pribadi. Tulisan/catatan yang kita buat di dalam Buku Harian adalah sebuah rekaman
jejak kisah kehidupan kita sendiri yang akan menjadi kenangan terindah dan tak
terlupakan di masa-masa yang akan datang. Pencatatan yang teliti dan akurat
tentang sebuah kisah, peristiwa dan langkah kehidupan kita akan menjadi catatan
sejarah yang berharga setidak-tidak bagi diri/pribadi kita sendiri.
Naikolan, 14 Maret
2015
Catatan:
Buku Harian Anne Frank berjudul Het Achterhuis atau yang lebih
dikenal dengan “The Diary of A Young Girl” telah menuai banyak simpati dari
pembaca sastra dan non-sastra, serta penyangkalan dan penghargaan yang tak ada
habisnya.
Ditulis
oleh seorang gadis remaja yang hidup dalam persembunyian selama masa penjajahan
Nazi Jerman di periode Perang Dunia II, buku harian ini adalah saksi kekejaman
pemerintahan Adolf Hitler serta sumber pembelajaran para ahli sejarah terhadap
nasib kaum Yahudi pasca pendudukan Jerman di negara-negara tetangga (Eropa).
Kisah
di bawah ini bukan cerita fiksi yang dipintal oleh seorang penulis handal,
bukan juga imajinasi seorang penulis amatir yang mencari ketenaran—melainkan
buah pena seorang remaja berusia 13 tahun yang mau tak mau terpaksa berteman
dengan “buku tulis” di tengah tragedi yang melanda Eropa di masa itu. Anne
Frank dan keluarga disembunyikan di loteng rumah tempat Otto Frank (Ayah)
bekerja, yang disebut sebagai SECRET ANNEXE. (http://fiksilotus.com/2012/09/11/buku-harian-anne-frank/).
[http://edukasi.kompasiana.com/2015/03/15/buku-hariandiary-706928.html]
March 21, 2015
Bidadariku
Oleh: Pietro T. M. Netti
Oh....Indah pesona Dewata
Desir ombak di pantai pasir putih
Karya agung lukisan semesta
Nusa indah seribu Pura
Nyanyian alam berkumandang
Gema seruling menyambut riang
Iringi gemulai gerak tarian
Dan senyum manis gadis desa
Lembut tatapmu bagai purnama
Ramah, santun menyinari raya
Kaulah bidadariku
Di antara gemintang khatulistiwa
“SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA NYEPI TAHUN BARU SAKA
1937”
Catatan:
BIDADARIKU adalah lirik lagu yang diciptakan di
Denpasar, 26 Januari 2003
February 10, 2015
Ring Tinju Memperebutkan Sabuk Kejuaraan Versi Sok Jago-Sok Gengsi
Oleh: Pietro T. M.
Netti
![]() |
| Ilustrasi: Tempo |
Lagi-lagi dua institusi penegak hukum kembali bersitegang. Kepolisian
Republik Indonesia (Polri) versus Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) kini telah memasuki ronde demi ronde dari entah berapa
ronde yang direncanakan akan berlangsung. Layaknya pertandingan tinju, kedua institusi
ini sudah saling melancarkan akumulasi pukulan jab-strike awal yang cukup tinggi dan Benar-Benar Membingungkan (BBM)
rakyat Indonesia.
Ronde pertama
dimulai dengan Komjen BG (Budi Gunawan), sang calon tunggal Kapolri yang
diajukan Presiden, ditetapkan sebagai tersangka pada Selasa, 13 Januari 2015
dalam dugaan garatifikasi dan/atau yang memiliki rekening gendut/tidak wajar
oleh KPK sehari sebelum akan di-fit and proper
tes oleh Komisi 3 DPR RI. Ronde ini diwarnai dengan keanehan-keanehan yang
ditunjukkan baik di lembaga eksekutif
maupun legislatif yang seharusnya
bisa dihindari untuk tidak menimbulkan kekisruhan/kegaduhan politik seperti
sekarang ini.
Kejanggalan di eksekutif; pertama adalah soal pengajuan nama calon Kapolri oleh Presiden
yang tidak lagi melibatkan institusi KPK sebagaimana yang pernah dilakukannya
kepada para calon menteri Kabinet Kerja. Kejanggalan berikut adalah Presiden
tetap ngotot mengajukan BG sebagai
calon tunggal Kapolri walaupun BG digadang-gadang atau sudah tercatat memiliki rapor merah berdasarkan penilaian KPK
sebelumnya pada saat seleksi menteri.
Aksi nekad Presiden ini, tidak bisa dipungkiri, akhirnya
menimbulkan berbagai spekulasi liar yang akhirnya menyudutkan Presiden sendiri.
Melalui pengajuan calon tunggal Kapolri yang menuai kontroversi sejak awal ini,
Presiden dituduh sedang berusaha untuk melindungi tokoh/oknum tertentu yang mendukungnya
melenggang ke Istana Negara pada Pilpres kali lalu yang diduga sedang dalam bidikan KPK. Isu bahwa Presiden sedang
diarahkan dan/atau didikte oleh tokoh-tokoh politik tertentu kembali mencuat ke
permukaan. Presiden pun lagi-lagi dituduh sebagai biang dari kekisruhan politik yang terjadi saat ini.
Kejanggalan di legislatif; walaupun BG telah resmi menjadi tersangka, DPR RI khususnya Komisi
3 bersikeras tetap melakukan fit and
proper test sebagai calon Kapolri pada Rabu, 14 Januari 2015. Dan anehnya,
si tersangka ini lolos bulat-bulat dalam
uji kepatutan dan kelayakan di hadapan Komisi 3 dengan mengantongi skor
kelulusan sangat memuaskan. Seluruh anggota Komisi 3 dengan suara bulat pula (kecuali
anggota komisi dari Partai Demokrat) mendukung pencalonan seorang tersangka
menjadi penghuni pucuk pimpinan di Kepolisian Republik Indonesia.
Lagi-lagi tindakan tidak terpuji kembali dipertontonkan oleh
pihak senayan kepada seluruh rakyat Indonesia. Anggota Komisi 3 DPR RI yang
adalah wakil-wakil dari rakyat ini memiliki suara yang berbeda
dan bahkan bertolakbelakang dengan suara rakyat. Itulah wajah-wajah,
mental-mental, dan kelakuan-kelakuan dari wakil-wakil kita yang sedang bergentayangan saat ini.
Ronde kedua;
Mabes Polri melalui Bareskrim (Badan Reserse dan Kriminal) melakukan
penangkapan terhadap BW (Bambang Widjayanto), Wakil Ketua KPK, di Depok saat
mengantarkan anak ke sekolah pada Jumat, 23 Januari 2015. Pihak Mabes Polri
mengatakan bahwa BW ditangkap karena telah ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan
laporan mantan anggota DPR RI dari Fraksi PDIP, Sugianto Sabran pada Kamis, 15
Januari 2015 atas dugaan memberikan kesaksian palsu pada sidang sengketa
Pilkada Kotawaringin Barat (Kalimantan) di Mahkamah Konstitusi pada 2010 lalu.
Sebagai kuasa hukum saat itu, BW diduga mengarahkan para saksi untuk memberikan
keterangan/kesaksian palsu di persidangan MK. Berbagai kejanggalan pun muncul terkait dengan
penangkapan salah satu anggota komisioner KPK ini.
Kejanggalan pertama adalah kesigapan Polri yang dinilai tiba-tiba
sangat cepat menanggapi laporan
masyarakat terkait kasus BW ini. Menurut Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Ronny
F. Sompie, penangkapan dan penetapan sebagai tersangka dilakukan karena Polri telah
memiliki tiga alat bukti yang sah. Kejanggalan berikut adalah penangkapan BW
tidak diketahui sama sekali oleh Pelaksana Tugas Kapolri, Komjen Badrodin
Haiti. Plt. Kapolri saat dimintai konfirmasi oleh Kepala Divisi Pencegahan KPK,
Johan Budi, terkait penangkapan BW oleh anggotanya menyatakan bahwa tidak benar
adanya penangkapan tersebut. Kejanggalan berikutnya lagi adalah proses
penangkapan BW tersebut juga menyita perhatian Komnas HAM karena diduga
melanggar Hak Azasi Manusia.
Ronde ketiga; Hujan laporan terhadap para komisioner
KPK oleh rakyat terkait dengan tindak pidana yang dilakukan para komisioner di
masa lalu pun membanjiri Badan
Reserse dan Kriminal Mabes Polri. Ketua KPK, Abraham Samad, dilaporkan oleh
Muhammad Yusuf Sahide yang merupakan Direktur Eksekutif LSM KPK Watch Indonesia
terkait dengan pertemuannya dengan sejumlah petinggi partai politik menjelang
pilpres 2014, dan juga terkait dengan tawaran Abraham Samad untuk membantu
penanganan kasus korupsi politisi PDIP, Emir Muis. Di samping itu, foto-foto
syur yang mirip dengan Abraham Samad pun beredar luas dimana-mana.
Nasib yang sama pula dialami oleh dua Wakil Ketua KPK lainnya:
Adnan Pandu Praja dan Zulkarnain. Adnan Pandu Praja dilaporkan terkait dengan
kasus perampasan saham di PT. Desy Timber, Perusahan HPH di Kalimantan Timur
yang terjadi pada tahun 2006 lalu. Zulkarnain dilaporkan oleh Aliansi
Masyarakat Jawa Timur ke Bareskrim Mabes Polri terkait dengan dugaan korupsi
dana hibah Progran Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Jawa Timur
tahun 2008.
Menyinggung tentang kriminalisasi KPK, Kabareskrim Polri,
Irjen Budi Waseso (saat ini berpangkat Komisaris Jenderal) membantah
mengkriminalisasi KPK. Semua kasus yang masuk ke Bareskrim Mabes Polri,
menurutnya, serius ditangani oleh pihaknya, bukan hanya kasus yang menimpa KPK.
Ronde keempat; Tersangka
Komjen BG mempraperadilankan KPK yang mempermasalahkan tentang keabsahan
penetapan dirinya sebagai tersangka yang diduga sebagai sebuah bentuk
kriminalisasi terhadap dirinya. Pemohon (BG) melalui para kuasa hukumnya
menduga penetepatan status tersangka tersebut sarat dengan motif tertentu (Sidang
pra peradilan masih berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dan kita
tunggu hasilnya!).
Ring tinju dalam
rangka memperebutkan sabuk gelar juara SJ-SG (Sok Jago-Sok Gengsi) masih akan terus
berlanjut ke ronde-ronde berikutnya, entah berapa ronde yang direncanakan. Sambil
menunggu keputusan wasit ring yang
saat ini masih melakukan perkunjungan kenegaraan ke luar negeri, kita, rakyat
Indonesia, sedang terbingung-bingung
menyaksikan tontonan adu kuat dari dua kubu yang terus saling melancarkan
serangan. Serangan-serangan yang tidak lagi berbobot di mata rakyat semakin
lama semakin terasa hanya untuk menjaga ego
kekuasaan masing-masing kubu.
Rakyat hanya bisa berharap pertarungan ini tidak perlu belanjut
hingga duabelas ronde. “Lebih
menyenangkan menonton pertandingan tinju di Ring Tinju TVRI daripada menyaksikan
pertarungan yang hanya mendatangkan kekisruhan dan/atau kegaduhan politik!”
Rakyat sudah muak dengan segala bentuk kekisruhan/kegaduhan yang selalu saja
sengaja diciptakan untuk memporakporandakan tatanan kehidupan berbangsa dan
bernegara.
http://politik.kompasiana.com/2015/02/10/ring-tinju-memperebutkan-sabuk-kejuaraan-versi-sok-jago-sok-gengsi-700845.html
January 17, 2015
“Maling Kandang”: Cerita Pengantar Tidur Rakyat
![]() |
| Ilustrasi: Kompasiana |
Oleh: Pietro T. M.
Netti
Malin Kundang
Membaca judul di atas, sekilas mungkin saja perhatian kita
tertuju pada nama/tokoh Malin Kundang,
si anak durhaka; si anak biadab yang tega menyangkali ibu kandung-nya sendiri demi mempertahankan gengsi dan ego di hadapan
istri dan pengikut-pengikutnya. Tentu kita semua pernah mengetahui dan/atau
mendengar cerita tentang Malin Kundang
si anak durhaka tersebut. Betapa cerita tersebut begitu membumi di seluruh
pelosok negeri ini. Cerita ini hampir selalu menjadi cerita pengantar tidur oleh
seorang ibu kepada anak-anaknya semasa kecil.
Cerita lokal asli Padang (Sumatera Barat) ini memang patut
diceritakan kepada anak-anak agar kelak tidak durhaka kepada orang tuanya, khususnya
durhaka kepada sang ibu yang telah
mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anak tercintanya, sebagaimana yang
dilakukan oleh si biadab Malin Kundang.
Kita sebagai anak harus tetap menghormati orang tua kita apapun keadaan dan
keberadaan mereka. Hukuman Tuhan adalah nyata dan pasti bagi mereka yang tega
menyangkali, mengkhianati, dan/atau yang durhaka kepada orang tuanya apapun
alasannya.
Maling
Judul “Maling Kandang”:
Cerita Pengantar Tidur Rakyat muncul ketika melihat pemberitaan di televisi
(Selasa, 13 Januari 2015) seputar penetapan calon tunggal Kapolri, Komjen Budi Gunawan, sebagai tersangka
korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Semula ada beberapa judul yang
terbersit dalam pikiran saya untuk dijadikan sebagai judul tulisan ini: Si Jenderal Maling, Si Penangkap Maling
Ternyata Maling Juga, Maling Kakap Berbintang Tiga, dan Maling Berseragam Polisi.
Keempat draft
judul tersebut memiliki satu kata kunci yang sama yakni kata Maling.
“Ya, Maling!”
Saya lebih memilih kata maling
untuk dilekatkan pada para pelaku korupsi daripada menggunakan kata koruptor itu sendiri. Walaupun hal ini
dapat dikatakan sebagai meringankan beban yang harus dipikul oleh para
koruptor atau bahkan bisa katakan sebagai sedikit memulihkan nama baik para koruptor yang seharusnya lebih bejat dari maling-maling biasa.
Sebenarnya koruptor adalah
istilah yang tepat untuk mereka yang disangkakan melakukan tindak pidana
korupsi (Baca definisi Korupsi menurut Wikipedia dan Kajian Pustaka!).
Namun menurut feeling saya, koruptor yang seharusnya memiliki makna
pelaku kejahatan bejat atau busuk telah mengalami degradasi makna
yang cenderung membuat pelaku maupun keluarga pelaku merasa bangga dengan status tersebut.
Para pelaku korupsi saat digiring aparat pun masih berjalan
dengan dada membusung dan kepala terangkat. Tidak jarang lambaian tangan bak nyiur melambai dan tebaran senyum ala selebriti menghiasi kamera para awak
media. Hal ini pun didukung dengan perlakuan aparat keamanan yang masih
menunjukkan sikap respect yang
berlebihan kepada si pelaku-pelaku busuk
dan bejat ini.
Beda halnya dengan apa yang terjadi pada pelaku maling ayam, pelaku maling jemuran dan pelaku maling
lainnya. Sejak penangkapan di Tempat Kejadian Perkara (TKP), sudah pasti sang
pelaku telah memperoleh banyak hadiah
dari warga dan aparat. Hadiah bogem
mentah di sekujur tubuh menjadi hadiah andalan bagi para pelaku, dan/atau
bahkan hadiah timah panas di paha,
betis atau kaki mereka.
Dalam keadaan seperti ini para pelaku sudah pasti meringis
kesakitan, sibuk menyembunyikan wajah mereka agar kalau boleh mereka tidak
dikenal oleh teman-teman dan kerabat-kerabat mereka. Jangankan senyum, lambaian
tangan pun mustahil dilakukan dalam kondisi fisik
dan psikis yang sudah ditekan dan tertekan ini. Jika ada pelaku maling
ayam atau maling jemuran atau
pelaku maling-maling lain yang bisa
tersenyum dan melambaikan tangan maka patut dipertanyakan kondisi kesehatan jiwanya
di dokter jiwa. Dan saya berani bertaruh, sudah pasti kondisi kejiwaannya
terganggu alias “gila”.
“Mungkinkah para pelaku korupsi juga memiliki kondisi
kejiwaan yang terganggu alias gangguan
jiwa alias sakit jiwa alias gangguan mental alias sakit mental alias tidak waras alias gila?”
Maling Kandang & Malin Kundang
Sebenarnya topik Maling
Kandang yang saya angkat dalam tulisan ini tidak 100% identik dengan cerita
Malin Kundang. Nama Malin Kundang dibawa-bawa dalam tulisan
ini hanya karena penyebutan dua suku kata awal (“Ma” dan “lin” = “Malin”)
yang hampir mirip dengan kata Maling.
Kata Maling, menurut hemat saya,
sangat cocok untuk dilekatkan pada
diri pelaku korupsi menggantikan
kata/istilah “keren” koruptor.
“Kok Keren???”
Ya, kata/istilah koruptor
disebut “keren” karena seharusnya kata/istilah ini menunjuk pada pelaku kriminal yang luar biasa (extra ordinary crime) yang artinya juga
seharusnya luar biasa bejat-nya, luar biasa busuk-nya dan luar biasa bobrok-nya. Tetapi
kata/istilah ini telah mengalami pergeseran makna 180 derajat yang terkesan
menjadi luar biasa hebat-nya dalam
mengangkat harkat dan martabat pelaku, keluarga dan sanak familinya seperti
yang telah saya paparkan di atas (Lihat Maling!).
Maling Kandang
dipakai karena hampir mirip pengucapannya dengan Malin Kundang. Di samping itu, nama ini juga dipilih untuk
menyetarakan para maling yang seharusnya bejat
dan seterusnya itu dengan para maling
ayam dan/atau para maling jemuran dan/atau
para maling lainnya. Malangkandang saya tujukan kepada para
pelaku korupsi yang idealnya memiliki
watak dan mental maling, kepribadian nyolong, dan harkat dan martabat rendahan yang tidak berbeda dengan para
pelaku maling pada umumnya yang
cenderung dianggap lebih hina itu. Mereka, para koruptor, sebenarnya jangan merasa diri lebih hebat atau lebih
bermartabat.
Jika mau disamakan, boleh juga, para koruptor sama hinanya dengan para maling, yakni memiliki mental, kepribadian, harkat dan martabat
yang sama dengan para maling. Tetapi jika
mau dibandingkan maka para koruptor sudah
pasti lebih hina, lebih bejat, lebih busuk, lebih bobrok mental, kepribadian,
harkat dan martabatnya daripada para maling.
Dikatakan lebih hina, lebih bejat dan seterusnya, karena dampak yang
ditimbulkan oleh aksi para koruptor ini
luar biasa besar kerusakannya bagi hidup
dan kehidupan rakyat miskin/kecil.
Sekali lagi, Maling
Kandang adalah tipe manusia biadab di negeri ini yang berwatak maling, gemar merampok di kandang tetangga dan/atau merampas jerih payah dan hasil usaha/keringat
orang lain. Maling Kandang adalah
pribadi yang tidak memiliki hati nurani yang tega merampas hak hidup sesama
anak bangsa yang lain yang justru hidup berkekurangan. Maling Kandang adalah tipe manusia bermuka badak dan berhati
srigala yang bangga bersenang-senang di atas penderitaan rakyat miskin/kecil.
Masih banyak lagi hal-hal nista yang layak di-copy-paste-kan pada diri para Maling
Kandang tak bermoral ini.
Maling Kandang v.s. Malin Kundang
Jika kita menghadap-hadapkan kedua nama/tokoh yang sama-sama
bereputasi bejat ini, maka kita bisa
melihat ada beberapa persamaan dan/atau perbedaan yang mencolok, sebagai
berikut:
- Maling Kandang adalah tokoh cerita yang nyata yang berasal dari pemberitaan di dalam cerita kehidupan yang nyata (kisah nyata) pula. Sedangkan Malin Kundang adalah tokoh cerita fiktif yang berasal dari legenda (cerita rakyat).
- Maling Kandang hidup bergelimang harta dengan cara tidak terpuji, yakni sengaja menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri/orang lain, mencuri uang milik rakyat, dan bersenang di atas penderitaan sesama di negeri sendiri. Sedangkan Malin Kundang, setahu saya, juga hidup bergelimang harta dan hidup sukses tapi karena usaha dan kerja keras di negeri orang (perantauan).
- Maling Kandang adalah tokoh yang berkelas ekonomi menengah ke atas atau tokoh elit kaya yang ingin terus menjadi kaya dan kaya dengan cara-cara busuk dan bejat hanya karena nafsu dan keserakahan. Sedangkan Malin Kundang adalah sosok pemuda miskin yang juga berasal dari keluarga miskin yang berusaha dan bekerja keras untuk bisa keluar dari jeratan kemiskinan diri dan keluarga (Mohon dikoreksi jika salah!).
- Maling Kandang dan Malin Kundang adalah anak-anak durhaka. Jika Malin Kundang adalah anak yang durhaka kepada ibu kandungnya yakni tidak mau mengakui ibu kandungnya yang telah melahirkan dan membesarkan, maka Maling Kandang adalah anak bangsa yang durhaka kepada ibu pertiwi yang telah memberi kehidupan dan perlindungan.
- Jika dalam cerita Malin Kundang terdapat pesan moral yang berhubungan dengan kesombongan, keangkuhan, tidak tau diri, lupa diri, dan kedurhakaan kepada orangtua yang tidak boleh ditiru, maka dalam cerita Maling Kandang menghadirkan pesan moral dua kali lebih banyak dari cerita Malin Kundang. Pesan moral yang patut dikutuk dari kisah nyata Maling Kandang ini selain seperti yang terkandung dalam kisah Malin Kundang adalah: rakus, serakah, mementingkan diri sendiri, mencuri dari kepunyaan/hak milik dan hak hidup rakyat kecil atau orang-orang miskin, bersenang-senang di atas penderitaan rakyat, dan seterusnya, dan seterusnya (Lihat di atas!).
- Sebagaimana cerita Malin Kundang memberi pesan moral kepada setiap anak agar tetap berbakti kepada orangtua dalam kondisi apapun keadaan mereka, kisah Maling Kandang inipun memberi pesan moral kepada setiap anak bangsa untuk tetap menjaga ibu pertiwi apapun keadaannya tanpa mengambil apa yang bukan menjadi haknya.
- Hukuman Tuhan untuk si Malin Kundang adalah nyata dan pasti, kapal yang ditumpangi dan seluruh isi kapal karam dan menjadi batu. Begitu pula dengan hukuman Tuhan untuk si Maling Kandang akan nyata dan pasti pula seiring perputaran roda waktu. Ungkapan “Kalau bukan sekarang kapan lagi” sudah ditakdirkan Tuhan untuk tidak berlaku bagi para Maling Kandang, melainkan “Kalau bukan sekarang pasti nanti”. Fakta telah membuktikan bahwa banyak pelaku korupsi yang terjerat jauh hari setelah masa keemasan mereka.
- Malin Kundang telah menjadi cerita rakyat yang melegenda yang sarat dengan pesan moral untuk tidak ditiru oleh anak-anak terhadap orangtuanya. Maling Kandang pun patut menjadi cerita bagi seluruh rakyat Indonesia yang diangkat dari sebuah kisah nyata di negeri tercinta ini yang memiliki pesan moral yang lebih sarat lagi agar bisa dihindari oleh segenap anak bangsa di masa-masa yang akan datang untuk kemajuan bersama.
Penutup
Tulisan ini hanya merupakan buah pikiran saya sebagai
rakyat kecil (yang samasekali tidak memiliki power apa-apa) yang terperangah melihat maraknya kasus-kasus
korupsi yang terjadi sebegitu massif-nya.
Sebagai rakyat, saya hanya bisa mendukung gigihnya upaya pemberantasan maupun
pencegahan korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Maju terus, KPK!
Kalau bukan sekarang pasti nanti!”
Akhir kata, kalaupun dalam tulisan ini terdapat kata-kata
yang terasa kasar dan/atau yang
kurang berkenan, jangan simpan di hati. Ini semata-semata bentuk ekspresi kegemasan saya secara pribadi melihat
kenyataan yang sebenarnya sangat memprihatinkan nasib bangsa dan negara ini ke
depannya yakni menuju Indonesia Jaya,
Indonesia Makmur dan Indonesia Sejahtera.
“Aku cinta… Anda
cinta… Kita cinta INDONESIA!”
[http://hukum.kompasiana.com/2015/01/17/maling-kandang-cerita-pengantar-tidur-rakyat-696961.html]
January 12, 2015
Pilek, Demam & Sakit Kepala: Cara Baru Mengupdate Daya Tahan Tubuh (???)
![]() |
| Ilustrasi: cnn.com |
Oleh: Pietro T. M.
Netti
Pendahuluan
Tulisan ini saya beri judul “Pilek, Demam & Sakit Kepala: Cara Baru Mengupdate Daya Tahan Tubuh”
dan dibubuhi dengan tiga tanda tanya
(???) di belakangnya yang sebenarnya mengekspresikan ungkapan: “Kok bisa?”. Dari penampakan judulnya
saja sudah pasti bakal menuai sejumlah kontroversi
hati (he2x..). Para pembaca (kompasianer, khususnya) tentu
bertanya-tanya apa mungkin (?), atau adakah penelitian dan/atau penemuan medis
(?) yang berhubungan dengan kebenaran
judul ini. Sebenarnya kontroversi judul ini juga telah menjadi pertanyaan besar
dan pergumulan berat saya pribadi sejak lama.
Berikut ini adalah ulasan selengkapnya yang ‘boleh dipercaya dan/atau boleh juga tidak’ tergantung seberapa
besar ‘imron’ para pembaca (he2x..):
Mendengar kata-kata Pilek,
Demam dan Sakit Kepala saja banyak
orang sudah tak sudi, apalagi sampai menyelami
(Baca: mengalami) dan merasakan
sendiri ketiga jenis penyakit ini, pastinya lebih tak sudi lagi. Memang ketiga
jenis penyakit ini, dalam kenyataannya, merupakan tiga sekawan yang hampir selalu seiring sejalan, memiliki kesetiakawan sosial yang tinggi plus saling bahu-membahu dan
bergotong-royong (menjalankan penghayatan
dan pengamalan Pancasila, he2x…) untuk menyerang,
menerjang dan memporak-porandakan
setiap tubuh baik yang sintal padat dan montok berlemak (ber-body six packs dan six months pregnancy), maupun yang kerempeng peot sekalipun.
Tua-muda, besar-kecil, semuanya disikat tanpa pandang bulu (lebat maupun tipis habis dilibas…eh…dicukur…he2x).
Pilek, Demam dan Sakit Kepala dari sudut pandang medis adalah satu paket penyakit
yang sebenarnya telah dikenal luas dengan istilah: Flu atau Influenza. Pada kesempatan
berbeda, ketiga jenis penyakit ini juga bisa hidup mandiri dan berdikari (he2x…).
Flu/Influenza
Sebagai satu paket (Mulai
serius nih!), Flu atau Influenza merupakan sejenis peradangan
pada saluran pernapasan yang dapat menyebabkan sakit parah bagi penderita,
terutama anak-anak, lansia dan/atau orang-orang dengan system imunitas
(kekebalan tubuh) yang rendah. Gejala Flu
atau Influenza biasanya
berkembang jauh lebih cepat daripada Pilek
(Selesma) dan bisa lebih parah lagi. Flu atau Influenza memang akan membaik setelah seminggu, tetapi si penderita
masih akan tetap merasa lemah dan lelah. Namun demikian kita tidak perlu kuatir
secara berlebihan, karena Flu atau Influenza biasanya dapat diobati di
rumah saja dengan isterahat, mengonsumsi banyak cairan (banyak minum air
putih), dan/atau meminum obat penghilang rasa sakit seperti parasetamol.
Berikut ini adalah gejala umum Flu atau Influenza yang
patut diketahui, antara lain: Demam mendadak dengan suhu tubuh bisa melebihi 38
derajat celcius, Batuk kering mendadak, Sakit kepala, Kelelahan, Kedinginan, Nyeri
pada otot dan sendi, Sakit tenggorokan, Hidung berlendir, Bersin-bersin, Kehilangan
nafsu makan, Kesulitan tidur. [Baca selengkapnya: http://forum.kompas.com/kesehatan/230326-pilek-dan-flu-apa-bedanya.html]
Dalam menerapkan pola hidup mandiri dan berdikari,
paket Flu atau Influenza ini membelah diri dan berpisah satu sama lainnya untuk ‘mengadu nasib di negeri orang.’
Masing-masing, sebut saja si Pilek, si Demam, dan si Sakit Kepala akan berpisah sementara
untuk ‘mengejar peruntungan
sendiri-sendiri.’ (He2x…mirip fiksi
petualangan).
Pilek (Selesma/Flu biasa)
Si Pilek (flu biasa/selesma) akan mengerahkan
kekuatannya dengan menebar pesona
ratusan (katanya 200) virus yang berbeda-beda untuk memperdayai si montok nan seksi maupun siapa saja
yang ditemui. Kekuatan maha daya 200 virusnya ini yang membuat tak seorang pun
di antara si montok-montok itu yang
mampu berkutik. Semua pasti bertekuk lutut di sudut kerling si Pilek (he2x…genit). Tubuh kita tidak
bisa kebal terhadap flu biasa (si Pilek)
karena kekebalan terhadap satu jenis virus tentu tidak akan melindungi tubuh
kita terhadap 199 virus lainnya.
Diperkirakan, anak-anak bisa mengalami pilek 4-8 kali
setiap tahun, sedangkan orang dewasa bisa mengalami 2-4 kali. Kita semua juga
bisa mengidap pilek kapan saja, tetapi biasanya virus pilek akan mewabah selama
musim hujan. Umumnya, gejala pilek muncul secara bertahap: Pilek atau hidung
tersumbat dengan lender, Bersin, Batuk, Sakit tenggorokan, Bisa mengalami demam
ringan, kelelahan, sakit telinga dan sakit kepala. [Baca selengkapnya: http://forum.kompas.com/kesehatan/230326-pilek-dan-flu-apa-bedanya.html]
Demam
Si Demam dalam kemandiriannya
juga memiliki kekuatan-kekuatan yang patut diwaspadai oleh si montok, si sintal maupun si
kerempeng. Pengerahan virus, bakteri atau parasit untuk menginfeksi menjadi
senjata utama sekaligus modus operandi si
Demam dalam setiap penaklukan korban di Tempat
Kejadian Perkara (He2x…berita
kriminal, “Wspadalah…! Waspadalah…!” kata bang Napi). Infeksi virus bakteri
atau parasit (infeksi ringan/biasa atau infeksi parah/serius) akan berpengaruh
pada suhu tubuh penderita yang tinggi atau sangat tinggi.
Demam adalah
kondisi ketika suhu tubuh kita berada di atas 37,5 derajat celcius. Demam
sebenarnya merupakan bagian dari proses kekebalan tubuh (sel darah putih,
wikipedia) yang sedang melawan infeksi akibat virus, bakteri atau parasit. Demam
dianggap sangat tinggi dan berpotensi berbahaya jika suhu tubuh mencapai 39
derajat celcius atau lebih. Gejala-gejala yang menyertai demam tergantung
kepada penyebab demam itu sendiri, antara lain: Sakit kepala, Berkeringat
dingin, Menggigil, Batuk-batuk, Sakit tenggorokan, Sakit pada telinga, Diare
dan muntah-muntah, Sakit otot, Kehilangan selera makan, dan Merasa kelelahan.
Demam belum tentu menjadi kondisi yang serius, tapi ada
beberapa situasi yang memerlukan bantuan medis secepatnya. Berikut ini adalah
gejala-gejala lain yang perlu diwaspadai: Sakit kepala yang parah, Muntah-muntah
secara terus-menerus, Mata menjadi sensitif terhadap cahaya terang, Ruam yang
muncul dan menyebar dengan cepat, Leher terasa kaku dan sakit saat menunduk,
Sesak napas dan sakit di dada, Kejang-kejang, Sakit saat buang air kecil, Gerakan otot dan
panca indera melemah. [Baca selengkapnya: http://alodokter.com/demam/].
Sakit Kepala
Si Sakit Kepala
sendiri akan megarahkan jurus-jurus
pamungkas serangannya di sekitar area kepala korban dengan tujuan agar
lawan bisa seketika knock out (KO).
Strategi penyerangan akan dioptimalkan dengan terus melancarkan pukulan-pukulan
beruntun baik jab, strike, hook, long hook,
maupun uppercut sehingga pastinya
membuat lawan/korban jatuh tersungkur dan tidak bisa bangkit walaupun wasit
telah menghitung sampai 10 (he2x...berita
tinju). Pada situasi tertentu, lawan bisa saja langsung roboh hanya dengan
satu pukulan mematikan (lucky blow)
dari si Sakit Kepala.
Pada tahun 2007, International Headache Society menyepakati
system klasifikasi atau jenis-jenis Sakit Kepala agar membuat para dokter
menegakkan diagnosis spesifik untuk menyediakan pengobatan lebih baik dan lebih
efektif. Ada tiga kategori utama untuk Jenis-jenis Sakit Kepala: 1) Sakit
Kepala Primer: skait kepala Migrain, Tension dan Cluster, 2) Sakit Kepala
Sekunder: sakit kepala yang disebabkan oleh masalah struktural di kepala atau
leher dan juga disebabkan oleh
pendarahan di otak, tumor, atau meningitis dan ensefalitis, dan 3) Nyeri Syaraf
Kranial (Cranial Neuralgia), Nyeri Wajah, dan Sakit Kepala lainnya [Baca
selengkapnya: http://mediskus.com/penyakit/jenis-jenis-sakit-kepala-dan-gejalanya.html].
Update Daya Tahan Tubuh
Di atas saya telah berupaya menghadirkan penjelasan tentang
penyakit Flu/Influenza, Pilek, Demam dan Sakit Kepala dari sumber-sumber yang
mudah-mudahan bisa dipercaya. Itulah fakta-fakta yang patut diketahui oleh kita
semua untuk sebisa mungkin melakukan pencegahan-pencegahan sejak dini. ‘Sedia payung sebelum hujan’ bukan hanya
sekedar pepatah melainkan juga sebagai aksi dan solusi yang paling tepat di
tengah-tengah musim penghujan saat ini agar tidak kehujanan (he2x…).
Saat ini, menjelang akhir tulisan ini, saya sedang kesulitan
untuk menjelaskan topik yang sesungguhnya ingin saya bahas, yakni: “Pilek, Demam & Sakit Kepala: Cara Baru
Mengupdate Daya Tahan Tubuh (???)” Data-data yang saya hadirkan ternyata
tidak 100 % mendukung apa yang ingin saya katakan dalam tulisan ini (he3x…Tuan makan senjata). “Benar-benar sial!” Dari segi medis,
sayangnya, saya juga tidak menemukan sumber-sumber yang mendukung. Om Google pun tidak bisa memberikan referensi
yang saya minta. Apa mungkin om Google
belum diberitahu tentang permasalahan ini? “Maybe
no!”
Walaupun demikian, saya harus tetap semangat dan yakin
untuk bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya gembar-gemborkan di awal tulisan ini yang saya yakini benar bahwa
memang “Pilek, Demam & Sakit Kepala:
Cara Baru Mengupdate Daya Tahan Tubuh.” Dari segi medis, sudah jelas
argumen yang ingin saya bangun boleh dikatakan terbantahkan oleh karena tidak
ada data yang secara terang benderang
mengatakan hal yang sama, walaupun ada sedikit dukungan data di dalam
pembahasan tentang demam, bahwa “Demam
sebenarnya merupakan bagian dari proses kekebalan tubuh (sel darah putih,
wikipedia) yang sedang melawan infeksi akibat virus, bakteri atau parasit.”
Sebenarnya topik ini bukanlah sebuah hal baru bagi saya. Di
awal tahun 2000-an, seingat saya,
saya pernah membaca sebuah buku yang berisi tentang terapi kesehatan (sialnya, saya lupa judul dan pengarangnya,
bukunya pun entah dimana?) yang khusus membahas tentang Flu/Influenza. Pembahasan tentang Flu/Influenza memang sangat mirip dengan apa yang dikatakan di
dalam pembahasan tentang demam tadi.
Intinya, seingat saya (tidak
akan pernah lupa), dikatakan bahwa jika kita terserang Flu/Influenza,
jangan panik, karena sebenarnya tubuh kita sedang memperbaharui daya tahan
tubuh (baca: system kekebalan tubuh) kita. Sistem kekebalan tubuh kita sedang
mempertahankan diri dari dan/atau melawan serangan virus yang ingin
menggerogoti tubuh kita. Lebih lanjut dikatakan (juga masih tetap saya ingat…he2x) bahwa jika kita terkena Flu/Influenza, jangan buru-buru panik
untuk mengkonsumsi segala macam obat-obatan untuk menyembuhkannya. Karena
setiap kita memiliki system kekebalan tubuh yang bisa mengatasi
serangan-serangan virus yang masuk. Biarkan saja tubuh kita me-recover
(memulihkan) dirinya sendiri.
Dengan demikian maka system kekebalan tubuh kita akan
selalu terjaga, terlatih, terasah dan selalu diperbaharui dari waktu ke waktu untuk
bisa menghadapi serangan virus dari luar. Kita disarankan untuk banyak
isterahat dan mengkonsumsi makanan sehat dan banyak minum air putih
panas/hangat untuk bisa menunjang kerja body
immunity (kekebalan tubuh) untuk menyembuhkan diri. Catatan: “Jika sakit terus berlanjut baru hubungi
dokter!” (He2x…).
Itulah catatan tentang apa yang pernah saya ketahui tentang
Flu/Influenza dan/atau “Pilek, Demam & Sakit Kepala: Cara Baru
Mengupdate Daya Tahan Tubuh (???)” Sayangnya, apa yang saya informasikan ini
tidak disertai dengan sumber atau data medis yang bisa menyakinkan para pembaca.
Tapi apapun itu, saya tetap meyakini bahwa apa yang saya sampaikan ini benar
adanya. Lagi pula: “Apa untungnya saya mengarang-ngarang cerita dan/atau
berlelah-lelah hanya untuk memberikan informasi yang sekiranya tidak benar dan
menyesatkan (modus)?”
Semoga saja tulisan ini bisa memberi manfaat bagi para
pembaca yang sempat membacanya. Salam!
[http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2015/01/12/pilek-demam-sakit-kepala-cara-baru-mengupdate-daya-tahan-tubuh--696064.html]























.jpg)