March 21, 2015
Bidadariku
Oleh: Pietro T. M. Netti
Oh....Indah pesona Dewata
Desir ombak di pantai pasir putih
Karya agung lukisan semesta
Nusa indah seribu Pura
Nyanyian alam berkumandang
Gema seruling menyambut riang
Iringi gemulai gerak tarian
Dan senyum manis gadis desa
Lembut tatapmu bagai purnama
Ramah, santun menyinari raya
Kaulah bidadariku
Di antara gemintang khatulistiwa
“SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA NYEPI TAHUN BARU SAKA
1937”
Catatan:
BIDADARIKU adalah lirik lagu yang diciptakan di
Denpasar, 26 Januari 2003
February 10, 2015
Ring Tinju Memperebutkan Sabuk Kejuaraan Versi Sok Jago-Sok Gengsi
Oleh: Pietro T. M.
Netti
![]() |
| Ilustrasi: Tempo |
Lagi-lagi dua institusi penegak hukum kembali bersitegang. Kepolisian
Republik Indonesia (Polri) versus Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) kini telah memasuki ronde demi ronde dari entah berapa
ronde yang direncanakan akan berlangsung. Layaknya pertandingan tinju, kedua institusi
ini sudah saling melancarkan akumulasi pukulan jab-strike awal yang cukup tinggi dan Benar-Benar Membingungkan (BBM)
rakyat Indonesia.
Ronde pertama
dimulai dengan Komjen BG (Budi Gunawan), sang calon tunggal Kapolri yang
diajukan Presiden, ditetapkan sebagai tersangka pada Selasa, 13 Januari 2015
dalam dugaan garatifikasi dan/atau yang memiliki rekening gendut/tidak wajar
oleh KPK sehari sebelum akan di-fit and proper
tes oleh Komisi 3 DPR RI. Ronde ini diwarnai dengan keanehan-keanehan yang
ditunjukkan baik di lembaga eksekutif
maupun legislatif yang seharusnya
bisa dihindari untuk tidak menimbulkan kekisruhan/kegaduhan politik seperti
sekarang ini.
Kejanggalan di eksekutif; pertama adalah soal pengajuan nama calon Kapolri oleh Presiden
yang tidak lagi melibatkan institusi KPK sebagaimana yang pernah dilakukannya
kepada para calon menteri Kabinet Kerja. Kejanggalan berikut adalah Presiden
tetap ngotot mengajukan BG sebagai
calon tunggal Kapolri walaupun BG digadang-gadang atau sudah tercatat memiliki rapor merah berdasarkan penilaian KPK
sebelumnya pada saat seleksi menteri.
Aksi nekad Presiden ini, tidak bisa dipungkiri, akhirnya
menimbulkan berbagai spekulasi liar yang akhirnya menyudutkan Presiden sendiri.
Melalui pengajuan calon tunggal Kapolri yang menuai kontroversi sejak awal ini,
Presiden dituduh sedang berusaha untuk melindungi tokoh/oknum tertentu yang mendukungnya
melenggang ke Istana Negara pada Pilpres kali lalu yang diduga sedang dalam bidikan KPK. Isu bahwa Presiden sedang
diarahkan dan/atau didikte oleh tokoh-tokoh politik tertentu kembali mencuat ke
permukaan. Presiden pun lagi-lagi dituduh sebagai biang dari kekisruhan politik yang terjadi saat ini.
Kejanggalan di legislatif; walaupun BG telah resmi menjadi tersangka, DPR RI khususnya Komisi
3 bersikeras tetap melakukan fit and
proper test sebagai calon Kapolri pada Rabu, 14 Januari 2015. Dan anehnya,
si tersangka ini lolos bulat-bulat dalam
uji kepatutan dan kelayakan di hadapan Komisi 3 dengan mengantongi skor
kelulusan sangat memuaskan. Seluruh anggota Komisi 3 dengan suara bulat pula (kecuali
anggota komisi dari Partai Demokrat) mendukung pencalonan seorang tersangka
menjadi penghuni pucuk pimpinan di Kepolisian Republik Indonesia.
Lagi-lagi tindakan tidak terpuji kembali dipertontonkan oleh
pihak senayan kepada seluruh rakyat Indonesia. Anggota Komisi 3 DPR RI yang
adalah wakil-wakil dari rakyat ini memiliki suara yang berbeda
dan bahkan bertolakbelakang dengan suara rakyat. Itulah wajah-wajah,
mental-mental, dan kelakuan-kelakuan dari wakil-wakil kita yang sedang bergentayangan saat ini.
Ronde kedua;
Mabes Polri melalui Bareskrim (Badan Reserse dan Kriminal) melakukan
penangkapan terhadap BW (Bambang Widjayanto), Wakil Ketua KPK, di Depok saat
mengantarkan anak ke sekolah pada Jumat, 23 Januari 2015. Pihak Mabes Polri
mengatakan bahwa BW ditangkap karena telah ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan
laporan mantan anggota DPR RI dari Fraksi PDIP, Sugianto Sabran pada Kamis, 15
Januari 2015 atas dugaan memberikan kesaksian palsu pada sidang sengketa
Pilkada Kotawaringin Barat (Kalimantan) di Mahkamah Konstitusi pada 2010 lalu.
Sebagai kuasa hukum saat itu, BW diduga mengarahkan para saksi untuk memberikan
keterangan/kesaksian palsu di persidangan MK. Berbagai kejanggalan pun muncul terkait dengan
penangkapan salah satu anggota komisioner KPK ini.
Kejanggalan pertama adalah kesigapan Polri yang dinilai tiba-tiba
sangat cepat menanggapi laporan
masyarakat terkait kasus BW ini. Menurut Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Ronny
F. Sompie, penangkapan dan penetapan sebagai tersangka dilakukan karena Polri telah
memiliki tiga alat bukti yang sah. Kejanggalan berikut adalah penangkapan BW
tidak diketahui sama sekali oleh Pelaksana Tugas Kapolri, Komjen Badrodin
Haiti. Plt. Kapolri saat dimintai konfirmasi oleh Kepala Divisi Pencegahan KPK,
Johan Budi, terkait penangkapan BW oleh anggotanya menyatakan bahwa tidak benar
adanya penangkapan tersebut. Kejanggalan berikutnya lagi adalah proses
penangkapan BW tersebut juga menyita perhatian Komnas HAM karena diduga
melanggar Hak Azasi Manusia.
Ronde ketiga; Hujan laporan terhadap para komisioner
KPK oleh rakyat terkait dengan tindak pidana yang dilakukan para komisioner di
masa lalu pun membanjiri Badan
Reserse dan Kriminal Mabes Polri. Ketua KPK, Abraham Samad, dilaporkan oleh
Muhammad Yusuf Sahide yang merupakan Direktur Eksekutif LSM KPK Watch Indonesia
terkait dengan pertemuannya dengan sejumlah petinggi partai politik menjelang
pilpres 2014, dan juga terkait dengan tawaran Abraham Samad untuk membantu
penanganan kasus korupsi politisi PDIP, Emir Muis. Di samping itu, foto-foto
syur yang mirip dengan Abraham Samad pun beredar luas dimana-mana.
Nasib yang sama pula dialami oleh dua Wakil Ketua KPK lainnya:
Adnan Pandu Praja dan Zulkarnain. Adnan Pandu Praja dilaporkan terkait dengan
kasus perampasan saham di PT. Desy Timber, Perusahan HPH di Kalimantan Timur
yang terjadi pada tahun 2006 lalu. Zulkarnain dilaporkan oleh Aliansi
Masyarakat Jawa Timur ke Bareskrim Mabes Polri terkait dengan dugaan korupsi
dana hibah Progran Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Jawa Timur
tahun 2008.
Menyinggung tentang kriminalisasi KPK, Kabareskrim Polri,
Irjen Budi Waseso (saat ini berpangkat Komisaris Jenderal) membantah
mengkriminalisasi KPK. Semua kasus yang masuk ke Bareskrim Mabes Polri,
menurutnya, serius ditangani oleh pihaknya, bukan hanya kasus yang menimpa KPK.
Ronde keempat; Tersangka
Komjen BG mempraperadilankan KPK yang mempermasalahkan tentang keabsahan
penetapan dirinya sebagai tersangka yang diduga sebagai sebuah bentuk
kriminalisasi terhadap dirinya. Pemohon (BG) melalui para kuasa hukumnya
menduga penetepatan status tersangka tersebut sarat dengan motif tertentu (Sidang
pra peradilan masih berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dan kita
tunggu hasilnya!).
Ring tinju dalam
rangka memperebutkan sabuk gelar juara SJ-SG (Sok Jago-Sok Gengsi) masih akan terus
berlanjut ke ronde-ronde berikutnya, entah berapa ronde yang direncanakan. Sambil
menunggu keputusan wasit ring yang
saat ini masih melakukan perkunjungan kenegaraan ke luar negeri, kita, rakyat
Indonesia, sedang terbingung-bingung
menyaksikan tontonan adu kuat dari dua kubu yang terus saling melancarkan
serangan. Serangan-serangan yang tidak lagi berbobot di mata rakyat semakin
lama semakin terasa hanya untuk menjaga ego
kekuasaan masing-masing kubu.
Rakyat hanya bisa berharap pertarungan ini tidak perlu belanjut
hingga duabelas ronde. “Lebih
menyenangkan menonton pertandingan tinju di Ring Tinju TVRI daripada menyaksikan
pertarungan yang hanya mendatangkan kekisruhan dan/atau kegaduhan politik!”
Rakyat sudah muak dengan segala bentuk kekisruhan/kegaduhan yang selalu saja
sengaja diciptakan untuk memporakporandakan tatanan kehidupan berbangsa dan
bernegara.
http://politik.kompasiana.com/2015/02/10/ring-tinju-memperebutkan-sabuk-kejuaraan-versi-sok-jago-sok-gengsi-700845.html
January 17, 2015
“Maling Kandang”: Cerita Pengantar Tidur Rakyat
![]() |
| Ilustrasi: Kompasiana |
Oleh: Pietro T. M.
Netti
Malin Kundang
Membaca judul di atas, sekilas mungkin saja perhatian kita
tertuju pada nama/tokoh Malin Kundang,
si anak durhaka; si anak biadab yang tega menyangkali ibu kandung-nya sendiri demi mempertahankan gengsi dan ego di hadapan
istri dan pengikut-pengikutnya. Tentu kita semua pernah mengetahui dan/atau
mendengar cerita tentang Malin Kundang
si anak durhaka tersebut. Betapa cerita tersebut begitu membumi di seluruh
pelosok negeri ini. Cerita ini hampir selalu menjadi cerita pengantar tidur oleh
seorang ibu kepada anak-anaknya semasa kecil.
Cerita lokal asli Padang (Sumatera Barat) ini memang patut
diceritakan kepada anak-anak agar kelak tidak durhaka kepada orang tuanya, khususnya
durhaka kepada sang ibu yang telah
mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anak tercintanya, sebagaimana yang
dilakukan oleh si biadab Malin Kundang.
Kita sebagai anak harus tetap menghormati orang tua kita apapun keadaan dan
keberadaan mereka. Hukuman Tuhan adalah nyata dan pasti bagi mereka yang tega
menyangkali, mengkhianati, dan/atau yang durhaka kepada orang tuanya apapun
alasannya.
Maling
Judul “Maling Kandang”:
Cerita Pengantar Tidur Rakyat muncul ketika melihat pemberitaan di televisi
(Selasa, 13 Januari 2015) seputar penetapan calon tunggal Kapolri, Komjen Budi Gunawan, sebagai tersangka
korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Semula ada beberapa judul yang
terbersit dalam pikiran saya untuk dijadikan sebagai judul tulisan ini: Si Jenderal Maling, Si Penangkap Maling
Ternyata Maling Juga, Maling Kakap Berbintang Tiga, dan Maling Berseragam Polisi.
Keempat draft
judul tersebut memiliki satu kata kunci yang sama yakni kata Maling.
“Ya, Maling!”
Saya lebih memilih kata maling
untuk dilekatkan pada para pelaku korupsi daripada menggunakan kata koruptor itu sendiri. Walaupun hal ini
dapat dikatakan sebagai meringankan beban yang harus dipikul oleh para
koruptor atau bahkan bisa katakan sebagai sedikit memulihkan nama baik para koruptor yang seharusnya lebih bejat dari maling-maling biasa.
Sebenarnya koruptor adalah
istilah yang tepat untuk mereka yang disangkakan melakukan tindak pidana
korupsi (Baca definisi Korupsi menurut Wikipedia dan Kajian Pustaka!).
Namun menurut feeling saya, koruptor yang seharusnya memiliki makna
pelaku kejahatan bejat atau busuk telah mengalami degradasi makna
yang cenderung membuat pelaku maupun keluarga pelaku merasa bangga dengan status tersebut.
Para pelaku korupsi saat digiring aparat pun masih berjalan
dengan dada membusung dan kepala terangkat. Tidak jarang lambaian tangan bak nyiur melambai dan tebaran senyum ala selebriti menghiasi kamera para awak
media. Hal ini pun didukung dengan perlakuan aparat keamanan yang masih
menunjukkan sikap respect yang
berlebihan kepada si pelaku-pelaku busuk
dan bejat ini.
Beda halnya dengan apa yang terjadi pada pelaku maling ayam, pelaku maling jemuran dan pelaku maling
lainnya. Sejak penangkapan di Tempat Kejadian Perkara (TKP), sudah pasti sang
pelaku telah memperoleh banyak hadiah
dari warga dan aparat. Hadiah bogem
mentah di sekujur tubuh menjadi hadiah andalan bagi para pelaku, dan/atau
bahkan hadiah timah panas di paha,
betis atau kaki mereka.
Dalam keadaan seperti ini para pelaku sudah pasti meringis
kesakitan, sibuk menyembunyikan wajah mereka agar kalau boleh mereka tidak
dikenal oleh teman-teman dan kerabat-kerabat mereka. Jangankan senyum, lambaian
tangan pun mustahil dilakukan dalam kondisi fisik
dan psikis yang sudah ditekan dan tertekan ini. Jika ada pelaku maling
ayam atau maling jemuran atau
pelaku maling-maling lain yang bisa
tersenyum dan melambaikan tangan maka patut dipertanyakan kondisi kesehatan jiwanya
di dokter jiwa. Dan saya berani bertaruh, sudah pasti kondisi kejiwaannya
terganggu alias “gila”.
“Mungkinkah para pelaku korupsi juga memiliki kondisi
kejiwaan yang terganggu alias gangguan
jiwa alias sakit jiwa alias gangguan mental alias sakit mental alias tidak waras alias gila?”
Maling Kandang & Malin Kundang
Sebenarnya topik Maling
Kandang yang saya angkat dalam tulisan ini tidak 100% identik dengan cerita
Malin Kundang. Nama Malin Kundang dibawa-bawa dalam tulisan
ini hanya karena penyebutan dua suku kata awal (“Ma” dan “lin” = “Malin”)
yang hampir mirip dengan kata Maling.
Kata Maling, menurut hemat saya,
sangat cocok untuk dilekatkan pada
diri pelaku korupsi menggantikan
kata/istilah “keren” koruptor.
“Kok Keren???”
Ya, kata/istilah koruptor
disebut “keren” karena seharusnya kata/istilah ini menunjuk pada pelaku kriminal yang luar biasa (extra ordinary crime) yang artinya juga
seharusnya luar biasa bejat-nya, luar biasa busuk-nya dan luar biasa bobrok-nya. Tetapi
kata/istilah ini telah mengalami pergeseran makna 180 derajat yang terkesan
menjadi luar biasa hebat-nya dalam
mengangkat harkat dan martabat pelaku, keluarga dan sanak familinya seperti
yang telah saya paparkan di atas (Lihat Maling!).
Maling Kandang
dipakai karena hampir mirip pengucapannya dengan Malin Kundang. Di samping itu, nama ini juga dipilih untuk
menyetarakan para maling yang seharusnya bejat
dan seterusnya itu dengan para maling
ayam dan/atau para maling jemuran dan/atau
para maling lainnya. Malangkandang saya tujukan kepada para
pelaku korupsi yang idealnya memiliki
watak dan mental maling, kepribadian nyolong, dan harkat dan martabat rendahan yang tidak berbeda dengan para
pelaku maling pada umumnya yang
cenderung dianggap lebih hina itu. Mereka, para koruptor, sebenarnya jangan merasa diri lebih hebat atau lebih
bermartabat.
Jika mau disamakan, boleh juga, para koruptor sama hinanya dengan para maling, yakni memiliki mental, kepribadian, harkat dan martabat
yang sama dengan para maling. Tetapi jika
mau dibandingkan maka para koruptor sudah
pasti lebih hina, lebih bejat, lebih busuk, lebih bobrok mental, kepribadian,
harkat dan martabatnya daripada para maling.
Dikatakan lebih hina, lebih bejat dan seterusnya, karena dampak yang
ditimbulkan oleh aksi para koruptor ini
luar biasa besar kerusakannya bagi hidup
dan kehidupan rakyat miskin/kecil.
Sekali lagi, Maling
Kandang adalah tipe manusia biadab di negeri ini yang berwatak maling, gemar merampok di kandang tetangga dan/atau merampas jerih payah dan hasil usaha/keringat
orang lain. Maling Kandang adalah
pribadi yang tidak memiliki hati nurani yang tega merampas hak hidup sesama
anak bangsa yang lain yang justru hidup berkekurangan. Maling Kandang adalah tipe manusia bermuka badak dan berhati
srigala yang bangga bersenang-senang di atas penderitaan rakyat miskin/kecil.
Masih banyak lagi hal-hal nista yang layak di-copy-paste-kan pada diri para Maling
Kandang tak bermoral ini.
Maling Kandang v.s. Malin Kundang
Jika kita menghadap-hadapkan kedua nama/tokoh yang sama-sama
bereputasi bejat ini, maka kita bisa
melihat ada beberapa persamaan dan/atau perbedaan yang mencolok, sebagai
berikut:
- Maling Kandang adalah tokoh cerita yang nyata yang berasal dari pemberitaan di dalam cerita kehidupan yang nyata (kisah nyata) pula. Sedangkan Malin Kundang adalah tokoh cerita fiktif yang berasal dari legenda (cerita rakyat).
- Maling Kandang hidup bergelimang harta dengan cara tidak terpuji, yakni sengaja menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri/orang lain, mencuri uang milik rakyat, dan bersenang di atas penderitaan sesama di negeri sendiri. Sedangkan Malin Kundang, setahu saya, juga hidup bergelimang harta dan hidup sukses tapi karena usaha dan kerja keras di negeri orang (perantauan).
- Maling Kandang adalah tokoh yang berkelas ekonomi menengah ke atas atau tokoh elit kaya yang ingin terus menjadi kaya dan kaya dengan cara-cara busuk dan bejat hanya karena nafsu dan keserakahan. Sedangkan Malin Kundang adalah sosok pemuda miskin yang juga berasal dari keluarga miskin yang berusaha dan bekerja keras untuk bisa keluar dari jeratan kemiskinan diri dan keluarga (Mohon dikoreksi jika salah!).
- Maling Kandang dan Malin Kundang adalah anak-anak durhaka. Jika Malin Kundang adalah anak yang durhaka kepada ibu kandungnya yakni tidak mau mengakui ibu kandungnya yang telah melahirkan dan membesarkan, maka Maling Kandang adalah anak bangsa yang durhaka kepada ibu pertiwi yang telah memberi kehidupan dan perlindungan.
- Jika dalam cerita Malin Kundang terdapat pesan moral yang berhubungan dengan kesombongan, keangkuhan, tidak tau diri, lupa diri, dan kedurhakaan kepada orangtua yang tidak boleh ditiru, maka dalam cerita Maling Kandang menghadirkan pesan moral dua kali lebih banyak dari cerita Malin Kundang. Pesan moral yang patut dikutuk dari kisah nyata Maling Kandang ini selain seperti yang terkandung dalam kisah Malin Kundang adalah: rakus, serakah, mementingkan diri sendiri, mencuri dari kepunyaan/hak milik dan hak hidup rakyat kecil atau orang-orang miskin, bersenang-senang di atas penderitaan rakyat, dan seterusnya, dan seterusnya (Lihat di atas!).
- Sebagaimana cerita Malin Kundang memberi pesan moral kepada setiap anak agar tetap berbakti kepada orangtua dalam kondisi apapun keadaan mereka, kisah Maling Kandang inipun memberi pesan moral kepada setiap anak bangsa untuk tetap menjaga ibu pertiwi apapun keadaannya tanpa mengambil apa yang bukan menjadi haknya.
- Hukuman Tuhan untuk si Malin Kundang adalah nyata dan pasti, kapal yang ditumpangi dan seluruh isi kapal karam dan menjadi batu. Begitu pula dengan hukuman Tuhan untuk si Maling Kandang akan nyata dan pasti pula seiring perputaran roda waktu. Ungkapan “Kalau bukan sekarang kapan lagi” sudah ditakdirkan Tuhan untuk tidak berlaku bagi para Maling Kandang, melainkan “Kalau bukan sekarang pasti nanti”. Fakta telah membuktikan bahwa banyak pelaku korupsi yang terjerat jauh hari setelah masa keemasan mereka.
- Malin Kundang telah menjadi cerita rakyat yang melegenda yang sarat dengan pesan moral untuk tidak ditiru oleh anak-anak terhadap orangtuanya. Maling Kandang pun patut menjadi cerita bagi seluruh rakyat Indonesia yang diangkat dari sebuah kisah nyata di negeri tercinta ini yang memiliki pesan moral yang lebih sarat lagi agar bisa dihindari oleh segenap anak bangsa di masa-masa yang akan datang untuk kemajuan bersama.
Penutup
Tulisan ini hanya merupakan buah pikiran saya sebagai
rakyat kecil (yang samasekali tidak memiliki power apa-apa) yang terperangah melihat maraknya kasus-kasus
korupsi yang terjadi sebegitu massif-nya.
Sebagai rakyat, saya hanya bisa mendukung gigihnya upaya pemberantasan maupun
pencegahan korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Maju terus, KPK!
Kalau bukan sekarang pasti nanti!”
Akhir kata, kalaupun dalam tulisan ini terdapat kata-kata
yang terasa kasar dan/atau yang
kurang berkenan, jangan simpan di hati. Ini semata-semata bentuk ekspresi kegemasan saya secara pribadi melihat
kenyataan yang sebenarnya sangat memprihatinkan nasib bangsa dan negara ini ke
depannya yakni menuju Indonesia Jaya,
Indonesia Makmur dan Indonesia Sejahtera.
“Aku cinta… Anda
cinta… Kita cinta INDONESIA!”
[http://hukum.kompasiana.com/2015/01/17/maling-kandang-cerita-pengantar-tidur-rakyat-696961.html]
January 12, 2015
Pilek, Demam & Sakit Kepala: Cara Baru Mengupdate Daya Tahan Tubuh (???)
![]() |
| Ilustrasi: cnn.com |
Oleh: Pietro T. M.
Netti
Pendahuluan
Tulisan ini saya beri judul “Pilek, Demam & Sakit Kepala: Cara Baru Mengupdate Daya Tahan Tubuh”
dan dibubuhi dengan tiga tanda tanya
(???) di belakangnya yang sebenarnya mengekspresikan ungkapan: “Kok bisa?”. Dari penampakan judulnya
saja sudah pasti bakal menuai sejumlah kontroversi
hati (he2x..). Para pembaca (kompasianer, khususnya) tentu
bertanya-tanya apa mungkin (?), atau adakah penelitian dan/atau penemuan medis
(?) yang berhubungan dengan kebenaran
judul ini. Sebenarnya kontroversi judul ini juga telah menjadi pertanyaan besar
dan pergumulan berat saya pribadi sejak lama.
Berikut ini adalah ulasan selengkapnya yang ‘boleh dipercaya dan/atau boleh juga tidak’ tergantung seberapa
besar ‘imron’ para pembaca (he2x..):
Mendengar kata-kata Pilek,
Demam dan Sakit Kepala saja banyak
orang sudah tak sudi, apalagi sampai menyelami
(Baca: mengalami) dan merasakan
sendiri ketiga jenis penyakit ini, pastinya lebih tak sudi lagi. Memang ketiga
jenis penyakit ini, dalam kenyataannya, merupakan tiga sekawan yang hampir selalu seiring sejalan, memiliki kesetiakawan sosial yang tinggi plus saling bahu-membahu dan
bergotong-royong (menjalankan penghayatan
dan pengamalan Pancasila, he2x…) untuk menyerang,
menerjang dan memporak-porandakan
setiap tubuh baik yang sintal padat dan montok berlemak (ber-body six packs dan six months pregnancy), maupun yang kerempeng peot sekalipun.
Tua-muda, besar-kecil, semuanya disikat tanpa pandang bulu (lebat maupun tipis habis dilibas…eh…dicukur…he2x).
Pilek, Demam dan Sakit Kepala dari sudut pandang medis adalah satu paket penyakit
yang sebenarnya telah dikenal luas dengan istilah: Flu atau Influenza. Pada kesempatan
berbeda, ketiga jenis penyakit ini juga bisa hidup mandiri dan berdikari (he2x…).
Flu/Influenza
Sebagai satu paket (Mulai
serius nih!), Flu atau Influenza merupakan sejenis peradangan
pada saluran pernapasan yang dapat menyebabkan sakit parah bagi penderita,
terutama anak-anak, lansia dan/atau orang-orang dengan system imunitas
(kekebalan tubuh) yang rendah. Gejala Flu
atau Influenza biasanya
berkembang jauh lebih cepat daripada Pilek
(Selesma) dan bisa lebih parah lagi. Flu atau Influenza memang akan membaik setelah seminggu, tetapi si penderita
masih akan tetap merasa lemah dan lelah. Namun demikian kita tidak perlu kuatir
secara berlebihan, karena Flu atau Influenza biasanya dapat diobati di
rumah saja dengan isterahat, mengonsumsi banyak cairan (banyak minum air
putih), dan/atau meminum obat penghilang rasa sakit seperti parasetamol.
Berikut ini adalah gejala umum Flu atau Influenza yang
patut diketahui, antara lain: Demam mendadak dengan suhu tubuh bisa melebihi 38
derajat celcius, Batuk kering mendadak, Sakit kepala, Kelelahan, Kedinginan, Nyeri
pada otot dan sendi, Sakit tenggorokan, Hidung berlendir, Bersin-bersin, Kehilangan
nafsu makan, Kesulitan tidur. [Baca selengkapnya: http://forum.kompas.com/kesehatan/230326-pilek-dan-flu-apa-bedanya.html]
Dalam menerapkan pola hidup mandiri dan berdikari,
paket Flu atau Influenza ini membelah diri dan berpisah satu sama lainnya untuk ‘mengadu nasib di negeri orang.’
Masing-masing, sebut saja si Pilek, si Demam, dan si Sakit Kepala akan berpisah sementara
untuk ‘mengejar peruntungan
sendiri-sendiri.’ (He2x…mirip fiksi
petualangan).
Pilek (Selesma/Flu biasa)
Si Pilek (flu biasa/selesma) akan mengerahkan
kekuatannya dengan menebar pesona
ratusan (katanya 200) virus yang berbeda-beda untuk memperdayai si montok nan seksi maupun siapa saja
yang ditemui. Kekuatan maha daya 200 virusnya ini yang membuat tak seorang pun
di antara si montok-montok itu yang
mampu berkutik. Semua pasti bertekuk lutut di sudut kerling si Pilek (he2x…genit). Tubuh kita tidak
bisa kebal terhadap flu biasa (si Pilek)
karena kekebalan terhadap satu jenis virus tentu tidak akan melindungi tubuh
kita terhadap 199 virus lainnya.
Diperkirakan, anak-anak bisa mengalami pilek 4-8 kali
setiap tahun, sedangkan orang dewasa bisa mengalami 2-4 kali. Kita semua juga
bisa mengidap pilek kapan saja, tetapi biasanya virus pilek akan mewabah selama
musim hujan. Umumnya, gejala pilek muncul secara bertahap: Pilek atau hidung
tersumbat dengan lender, Bersin, Batuk, Sakit tenggorokan, Bisa mengalami demam
ringan, kelelahan, sakit telinga dan sakit kepala. [Baca selengkapnya: http://forum.kompas.com/kesehatan/230326-pilek-dan-flu-apa-bedanya.html]
Demam
Si Demam dalam kemandiriannya
juga memiliki kekuatan-kekuatan yang patut diwaspadai oleh si montok, si sintal maupun si
kerempeng. Pengerahan virus, bakteri atau parasit untuk menginfeksi menjadi
senjata utama sekaligus modus operandi si
Demam dalam setiap penaklukan korban di Tempat
Kejadian Perkara (He2x…berita
kriminal, “Wspadalah…! Waspadalah…!” kata bang Napi). Infeksi virus bakteri
atau parasit (infeksi ringan/biasa atau infeksi parah/serius) akan berpengaruh
pada suhu tubuh penderita yang tinggi atau sangat tinggi.
Demam adalah
kondisi ketika suhu tubuh kita berada di atas 37,5 derajat celcius. Demam
sebenarnya merupakan bagian dari proses kekebalan tubuh (sel darah putih,
wikipedia) yang sedang melawan infeksi akibat virus, bakteri atau parasit. Demam
dianggap sangat tinggi dan berpotensi berbahaya jika suhu tubuh mencapai 39
derajat celcius atau lebih. Gejala-gejala yang menyertai demam tergantung
kepada penyebab demam itu sendiri, antara lain: Sakit kepala, Berkeringat
dingin, Menggigil, Batuk-batuk, Sakit tenggorokan, Sakit pada telinga, Diare
dan muntah-muntah, Sakit otot, Kehilangan selera makan, dan Merasa kelelahan.
Demam belum tentu menjadi kondisi yang serius, tapi ada
beberapa situasi yang memerlukan bantuan medis secepatnya. Berikut ini adalah
gejala-gejala lain yang perlu diwaspadai: Sakit kepala yang parah, Muntah-muntah
secara terus-menerus, Mata menjadi sensitif terhadap cahaya terang, Ruam yang
muncul dan menyebar dengan cepat, Leher terasa kaku dan sakit saat menunduk,
Sesak napas dan sakit di dada, Kejang-kejang, Sakit saat buang air kecil, Gerakan otot dan
panca indera melemah. [Baca selengkapnya: http://alodokter.com/demam/].
Sakit Kepala
Si Sakit Kepala
sendiri akan megarahkan jurus-jurus
pamungkas serangannya di sekitar area kepala korban dengan tujuan agar
lawan bisa seketika knock out (KO).
Strategi penyerangan akan dioptimalkan dengan terus melancarkan pukulan-pukulan
beruntun baik jab, strike, hook, long hook,
maupun uppercut sehingga pastinya
membuat lawan/korban jatuh tersungkur dan tidak bisa bangkit walaupun wasit
telah menghitung sampai 10 (he2x...berita
tinju). Pada situasi tertentu, lawan bisa saja langsung roboh hanya dengan
satu pukulan mematikan (lucky blow)
dari si Sakit Kepala.
Pada tahun 2007, International Headache Society menyepakati
system klasifikasi atau jenis-jenis Sakit Kepala agar membuat para dokter
menegakkan diagnosis spesifik untuk menyediakan pengobatan lebih baik dan lebih
efektif. Ada tiga kategori utama untuk Jenis-jenis Sakit Kepala: 1) Sakit
Kepala Primer: skait kepala Migrain, Tension dan Cluster, 2) Sakit Kepala
Sekunder: sakit kepala yang disebabkan oleh masalah struktural di kepala atau
leher dan juga disebabkan oleh
pendarahan di otak, tumor, atau meningitis dan ensefalitis, dan 3) Nyeri Syaraf
Kranial (Cranial Neuralgia), Nyeri Wajah, dan Sakit Kepala lainnya [Baca
selengkapnya: http://mediskus.com/penyakit/jenis-jenis-sakit-kepala-dan-gejalanya.html].
Update Daya Tahan Tubuh
Di atas saya telah berupaya menghadirkan penjelasan tentang
penyakit Flu/Influenza, Pilek, Demam dan Sakit Kepala dari sumber-sumber yang
mudah-mudahan bisa dipercaya. Itulah fakta-fakta yang patut diketahui oleh kita
semua untuk sebisa mungkin melakukan pencegahan-pencegahan sejak dini. ‘Sedia payung sebelum hujan’ bukan hanya
sekedar pepatah melainkan juga sebagai aksi dan solusi yang paling tepat di
tengah-tengah musim penghujan saat ini agar tidak kehujanan (he2x…).
Saat ini, menjelang akhir tulisan ini, saya sedang kesulitan
untuk menjelaskan topik yang sesungguhnya ingin saya bahas, yakni: “Pilek, Demam & Sakit Kepala: Cara Baru
Mengupdate Daya Tahan Tubuh (???)” Data-data yang saya hadirkan ternyata
tidak 100 % mendukung apa yang ingin saya katakan dalam tulisan ini (he3x…Tuan makan senjata). “Benar-benar sial!” Dari segi medis,
sayangnya, saya juga tidak menemukan sumber-sumber yang mendukung. Om Google pun tidak bisa memberikan referensi
yang saya minta. Apa mungkin om Google
belum diberitahu tentang permasalahan ini? “Maybe
no!”
Walaupun demikian, saya harus tetap semangat dan yakin
untuk bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya gembar-gemborkan di awal tulisan ini yang saya yakini benar bahwa
memang “Pilek, Demam & Sakit Kepala:
Cara Baru Mengupdate Daya Tahan Tubuh.” Dari segi medis, sudah jelas
argumen yang ingin saya bangun boleh dikatakan terbantahkan oleh karena tidak
ada data yang secara terang benderang
mengatakan hal yang sama, walaupun ada sedikit dukungan data di dalam
pembahasan tentang demam, bahwa “Demam
sebenarnya merupakan bagian dari proses kekebalan tubuh (sel darah putih,
wikipedia) yang sedang melawan infeksi akibat virus, bakteri atau parasit.”
Sebenarnya topik ini bukanlah sebuah hal baru bagi saya. Di
awal tahun 2000-an, seingat saya,
saya pernah membaca sebuah buku yang berisi tentang terapi kesehatan (sialnya, saya lupa judul dan pengarangnya,
bukunya pun entah dimana?) yang khusus membahas tentang Flu/Influenza. Pembahasan tentang Flu/Influenza memang sangat mirip dengan apa yang dikatakan di
dalam pembahasan tentang demam tadi.
Intinya, seingat saya (tidak
akan pernah lupa), dikatakan bahwa jika kita terserang Flu/Influenza,
jangan panik, karena sebenarnya tubuh kita sedang memperbaharui daya tahan
tubuh (baca: system kekebalan tubuh) kita. Sistem kekebalan tubuh kita sedang
mempertahankan diri dari dan/atau melawan serangan virus yang ingin
menggerogoti tubuh kita. Lebih lanjut dikatakan (juga masih tetap saya ingat…he2x) bahwa jika kita terkena Flu/Influenza, jangan buru-buru panik
untuk mengkonsumsi segala macam obat-obatan untuk menyembuhkannya. Karena
setiap kita memiliki system kekebalan tubuh yang bisa mengatasi
serangan-serangan virus yang masuk. Biarkan saja tubuh kita me-recover
(memulihkan) dirinya sendiri.
Dengan demikian maka system kekebalan tubuh kita akan
selalu terjaga, terlatih, terasah dan selalu diperbaharui dari waktu ke waktu untuk
bisa menghadapi serangan virus dari luar. Kita disarankan untuk banyak
isterahat dan mengkonsumsi makanan sehat dan banyak minum air putih
panas/hangat untuk bisa menunjang kerja body
immunity (kekebalan tubuh) untuk menyembuhkan diri. Catatan: “Jika sakit terus berlanjut baru hubungi
dokter!” (He2x…).
Itulah catatan tentang apa yang pernah saya ketahui tentang
Flu/Influenza dan/atau “Pilek, Demam & Sakit Kepala: Cara Baru
Mengupdate Daya Tahan Tubuh (???)” Sayangnya, apa yang saya informasikan ini
tidak disertai dengan sumber atau data medis yang bisa menyakinkan para pembaca.
Tapi apapun itu, saya tetap meyakini bahwa apa yang saya sampaikan ini benar
adanya. Lagi pula: “Apa untungnya saya mengarang-ngarang cerita dan/atau
berlelah-lelah hanya untuk memberikan informasi yang sekiranya tidak benar dan
menyesatkan (modus)?”
Semoga saja tulisan ini bisa memberi manfaat bagi para
pembaca yang sempat membacanya. Salam!
[http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2015/01/12/pilek-demam-sakit-kepala-cara-baru-mengupdate-daya-tahan-tubuh--696064.html]
January 8, 2015
Cuma Catatan Harian Biasa
![]() |
| Ilustrasi: ilmuwancilik |
Oleh: Pietro T. M.
Netti
Tulisan
ini cuma catatan harian biasa
sebagaimana judul yang terpancang (terpampang, pen) nyata di atas. Sahabat-sahabat kompasianer
boleh dengan leluasa memutuskan untuk mau
membaca catatan ini atau langsung saja pindah
ke lain hati. Seluruh hak saya serahkan kepada sobat-sobatku yang baik
hatinya untuk memutuskannya sendiri, karena lagi-lagi ini cuma catatan harian biasa.
Memasuki
tahun yang baru, tahun 2015 di penghujung hari ke-7 menjelang hari ke-8, saya
masih saja belum mendapatkan ide yang tepat sekaligus menarik atau up to date untuk mulai menulis di kompasiana maupun di blog-blogku yang
lain, padahal informasi/berita aktual banyak yang berseliweran di sekitar kita.
Lebih tepatnya, saya masih belum mendapatkan mood yang bagus untuk membangkitkan gairah menulis yang mungkin butuh “di-on clinic-kan”. Maklum, masih
menunggu hari baik! (He2x…).
“Apakah
catatan harian ini bukan termasuk bentuk ide yang dituangkan dalam tulisan?”
“Kurang
paham! Pokoknya yang saya rasa adalah belum ada ide yang tepat dan mood yang baik untuk menulis!”
“?????”
Sambil
tetap berharap datangnya hari baik suatu saat nanti, saya tetap berselancar ke
berbagai penjuru media sosial walaupun hanya sebagai subyek pemerhati tanpa
beropini. Saya cukup menjadi pengunjung pasif yang berusaha menelan semua
informasi yang diperoleh. Setiap kali menyempatkan waktu berkunjung ke kompasiana, saya hanya bisa kagum dan
terpesona karena banyak sekali tulisan dari para kompasianer yang selalu dan tetap muncul dengan berbagai topik/ide
segar yang tentu saja menarik,
bermanfaat, inspiratif dan aktual.
Melihat
kenyataan ini, saya bertanya-tanya pada rumput
yang bergoyang…eh…pada diri sendiri:
“Apa yang mau anda tulis, Pietro?”
Pertanyaan ini selalu saja menggelitik nurani saya setiap kali melihat traffic tulisan di kompasiana dari teman-teman kompasianer
yang gak ada matinya.
“Salut
untuk para kompasianer yang selalu on di setiap waktu dan kesempatan!”
Padahal
mau dibilang di sekitar kita selalu menghadirkan banyak hal yang bisa dijadikan
topik/ide untuk mulai menulis. Tapi memang kalau lagi usus buntu (He3x… “buntu ide”
maksudnya), apa saja yang terjadi di depan mata, hanyalah angin lalu. Mata ini
hanya bisa melihat dengan tatapan kosong, atau hanya bisa melirik tanpa gairah
menggelora layaknya kesan pertama yang tidak menggoda. Atau bisa jadi yang kita
lakukan hanyalah memandang dengan sebelah mata pada kejadian-kejadian tersebut
tanpa menyimak, mengobservasi dan meneliti lebih jauh untuk didokumentasikan
dalam bentuk catatan-catatan.
Ini
menjadi salah satu titik lemah kita
yang hanya mau mengandalkan atau terbiasa dengan fungsi daya ingat (yakni mengingat
dan menghafal) semata terhadap suatu
kejadian/peristiwa penting yang mungkin saja akan sangat bermanfaat di
masa-masa yang akan datang. Kita cenderung hanya senang mengenang dalam pikiran
sebagai kenangan terindah tanpa
berniat mencatat dalam bentuk data tertulis. Kenangan pasti lekang dimakan usia
si pengenang, tapi data tertulis akan tetap hidup melampaui usia si pencatat
data.
Bicara
tentang mengingat dan menghafal membawaku kembali ke masa-masa
sekolah dulu terutama saat menghadapi masa-masa ujian baik semester-an maupun ujian akhir sekolah. Banyak di antara kita yang
selalu mempersiapkan diri dengan cara mengingat
dan menghafal materi-materi pelajaran
untuk menghadapi ujian tersebut. Membaca atau belajar bukan untuk
dimengerti/dipahami, tetapi belajar untuk bisa mengingat/menghafal. Bahkan ada
yang sampai mengunyah dan kemudian menelan buku-buku catatannya sendiri supaya
bisa lebih kuat ingatannya (He4x… “Just
kiddingI”).
Memang
cara tersebut cukup manjur untuk bisa membuat kita bisa mengerjakan soal-soal
ujian dengan baik, dan bisa naik kelas dan/atau lulus dengan selamat. Tapi
kalau mau jujur, setelah naik kelas atau lulus, materi-materi yang dipelajari
banyak yang hilang tak berbekas dari ingatan kita. Karena memang tujuan belajar
(mengingat dan menghafal) tersebut hanya untuk tujuan jangka pendek yakni hanya
untuk menghadapi ujian saat itu. Jadi jangan heran kalau ada siswa yang baru
saja naik ke kelas dua misalnya tidak mengingat lagi materi-materi yang
diperolehnya di kelas satu, dan sebagainya.
Kembali ke laptopnya Tukul!
Sejak
Desember 2014 lalu, saya hanya menjadi peselancar
(blogger/kompasianer) pasif. Jika dilihat, sebenarnya banyak hal berupa
beberapa kejadian dan peristiwa penting dan menarik yang seharusnya bisa
menjadi topik bahasan tapi saya lewatkan begitu saja. Yang masih segar dalam
ingatan kita adalah tentang hilang kontaknya pesawat Air Asia dengan kode
penerbangan QZ 8501 pada 26 Desember 2014 lalu yang akhirnya diketahui
mengalami kecelakaan yang menewaskan seluruh kru dan penumpangnya.
Masih
berhubungan dengan Air Asia, pengerahan seluruh kekuatan dan armada oleh
pemerintah baik dari Basarnas, TNI, Polri, dan seluruh komponen masyarakat
lainnya untuk mencari para korban yang patut diacungi 2 jempol pun seharusnya
bisa menjadi perhatian saya.
Hal
lain yang juga masih segar dalam ingatan kita adalah tentang penurunan harga
BBM (bukan Blackberry Messenger
seperti kata bang H) oleh pemerintah dari level Rp. 8.500,-/liter ke level Rp.
7.500,-/liter (Mohon dikoreksi jika salah!) yang masih menyisakan polemik
berkepanjangan.
“Bukankah
ini adalah sebuah bentuk kecerobohan pemerintah saat ini yang sangat
tergesa-gesa atau terburu-buru menaikkan harga BBM di tengah-tengah turunnya
harga minyak dunia?”
“Bukankah
ini juga sebagai bentuk ketidakmatangan dalam hal pengambilan kebijakan dan
keputusan oleh pemerintahan Jokowi saat ini di awal kekuasaannya?”
Itulah
dua dari sekian banyak pertanyaan yang masih tersembunyi di dibalik otak kiri
atau otak kanan saya. Mungkin ada alasan logis dibalik kebijakan/keputusan
pemerintah tersebut, tapi dampak kenaikan BBM sebelumnya sudah sudah sangat
mencekik rakyat kecil. Rakyat kecil tercekik bukan karena harga BBM yang
tinggi, tapi karena kebijakan menaikkan harga BBM tersebut juga membuat seluruh
harga bahan kebutuhan pokok ikut melambung
ke angkasa. Sangat jelas daya beli rakyat yang lagi tiarap tidak mampu menggapai
langit.
“Apa
mungkin pemerintah bisa menjamin bahwa dengan menurunkan harga BBM sekian
persen tersebut, otomatis akan membuat harga-harga barang bisa ikut merangkak
turun sekian persen pula?”
“Rasa-rasanya
mustahil bisa terjadi!”
Dari
perspektif rakyat kecil, saya berpendapat bahwa harga BBM yang sudah dinaikkan
seharusnya tidak perlu diturunkan lagi. Rakyat kecil sudah teruji kuat dan
mampu beradaptasi untuk menjaga hak hidupnya di tengah keterpurukan daya beli
yang kian merayap. Sekarang harga BBM
sudah turun, tapi kalau boleh pemerintah harus bisa menjamin 100% bahwa harga
BBM yang sudah turun tersebut tidak dinaikkan kembali suatu saat nanti dalam
kurun waktu 5 tahun ke depan. Ini dilakukan agar harga-harga bahan pokok tadi
tidak naik dua kali, sehingga membuat rakyat kecil menderita dua kali juga atau
menderita berulang-ulang.
Sebagai
Jokowiers (He2x…ketahuan belangnya) saya hanya bisa menelan ludah (ludah sendiri)
dan berusaha menutup telinga rapat-rapat dari cercaan dan umpatan dari mereka
yang sejak awal antipati terhadap
Jokowi. Dan masih banyak hal menarik lainnya yang sengaja dilewatkan dari
perhatian saya.
Namun
demikian, walaupun ada banyak yang luput, ada banyak hal lain yang ternyata
telah menjadi konsentrasi saya dan harus saya jalani. Mungkin saja hal yang
luput dari perhatian saya telah menjadi perhatian dari sobat-sobat kompasianer yang lain, tapi mungkin juga
hal-hal lain yang telah dan harus saya jalani di bulan Desember lalu tidak
dijalani oleh sobat-sobat kompasianer.
Jika demikian maka skor kita sama alias
seri: 0:0, atau 1:1, atau 5:5, dan seterusnya. (He2x…Akhirnya sama juga!).
Jika
ditanya, “Manakah yang lebih penting antara
hal-hal yang saya lewatkan dan hal-hal yang telah dan harus saya jalani?”
Pertanyaannya
gampang-gampang sulit sekaligus sulit-sulit gampang. Tapi kalau saya
dipaksa (He2x… ”Siapa yang paksa?”)
untuk harus menjawab pertanyaan tersebut, maka jawaban saya adalah “Hal yang telah dan harus saya jalani yang
lebih penting!” Alasannya: “Kalau
tidak penting maka tentu saya sudah memilih untuk tidak melewatkan
kejadian-kejadian dan/atau peristiwa-peristiwa penting/menarik tersebut!”
(He2x… “Alasannya konyol!”).
Sebenarnya
kedua hal yang saya sebutkan di atas sama pentingnya, tergantung pada pilihan
dari tiap-tiap orang sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing orang
tersebut. Bisa saja, ada orang lain yang lebih memilih hal pertama sebagai hal
yang lebih penting, dan itu sah-sah saja. Jika tidak maka ia pasti lebih
memilih hal yang kedua dan mengabaikan hal pertama sebagaimana yang saya
lakukan belum lama ini. Dan lagi, yang disebut sebagai alasan konyol di atas juga akan menjadi alasan kuat bagi setiap
orang di saat harus memilih. (He2x...Alasan
konyol menjadi alasan kuat?).
Terus
terang, sampai pada bagian ini pun, saya belum juga mendapatkan mood yang saya harapkan sebagai pemicu
gairah, sedangkan catatan harian yang saya buat ini pun semakin membingungkan.
Ada sebagian orang (atau lebih tepatnya, kebanyakan orang) mengatakan: “Jika anda ingin menulis, tulislah apa saja
yang ada dalam pikiran anda!”
Mungkin
saja benar anjuran ini, tapi untuk saat ini bahkan di banyak kesempatan yang
lain anjuran ini selalu tidak benar untuk saya. Apa yang saya tulis selalu
berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran saya. Contohnya seperti yang sedang
saya alami sekarang ini; catatan harian ini muncul tak terduga dari sebuah
kehampaan. “Aneh tapi nyata!” Tidak
ada apa-apa dalam pikiran saya saat ini, maksudnya yang ada dalam pikiran saya
saat ini tidak sama persis dengan catatan yang sedang saya tulis ini. Yang
tertuang dalam tulisan tidak mencerminkan apa yang sedang pikirkan. Dan saya
harus lapang dada menerima apapun hasilnya, walaupun bisa sangat membingungkan
atau bisa jadi akan sangat memalukan. (He3x…).
“Mungkin
ini yang dinamakan sebagai membuat yang tiada
menjadi ada?”
“Ah…masa’?”
“Iya…,
buktinya tulisan ini hampir kelar, muncul dari sebuah kekosongan pikiran!
Yaah…walaupun tulisan ini akan sangat membingungkan atau akan sangat
memalukan!” (He3x…).
“Berarti
apa yang sedang saya buat saat ini masuk dalam kategori sebagai sebuah karya penciptaan?” (Ehem…baca: karya dan kreasi).
“Ya,
iya laah…! Masa’ iya dong…? Karya penciptaan yang akan mencoreng nama baik!”
(Ha3x… Monolog ini tidak untuk ditanggapi
dengan serius! Cuma asal!).
Sudah
tentu sobat-sobat kompasianer yang
sejak awal telah memutuskan pindah ke
lain hati sedikit pun tidak mengetahui kekonyolan yang sedang saya buat
ini. Tapi bagi sobat-sobat kompasianer
yang terlanjur menggunakan haknya untuk terus membaca sampai pada detik ini
tentu telah mencatat berbagai kekonyolan yang saya buat melalui catatan harian
ini. Jika di bagian awal sahabat-sahabat kompasianer
telah diberi hak untuk boleh dengan leluasa memutuskan…, maka kini hak itu saya
cabut demi melindungi nama baik sesama. (He2x..).
Di
bagian akhir ini kiranya sahabat-sahabat kompasianer
wajib tutup mulut akan apa yang telah
saya lakukan yang bisa berpotensi menjadi aib
pribadi ini. (He3x…). Menutup catatan harian yang aneh ini, sudi kiranya
sobat-sobat kompasianer juga mau
membaca pantun yang juga aneh ini (sebuah modifikasi yang tidak
bertanggungjawab. “Jangan ditiru!”):
Kalau ada jarum yang patah, jangan disimpan di dalam hati…
Kalau ada kata yang salah, jangan disimpan di dalam peti.
Kalau ada jarum yang salah jangan disimpan di dalam peti…
Kalau ada kata yang patah jangan disimpan di dalam hati.
Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita bertemu kembali.
Kalau ada umur yang panjang, bolelah kita menumpang mandi…
Kalau ada sumur yang panjang, bolehlah kita menumpang mandi…
Kalau ada umur di ladang, bolehlah kita bertemu kembali.
“Ha3x…!
Salam!”
[http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2015/01/07/cuma-catatan-harian-biasa-695455.html]
December 26, 2014
Salam Damai Natal Untuk Negeri & Penghuni Negeri
![]() |
| Kebaktian Malam Natal 24/12/2014 di Jemaat Gunung Sinai Naikolan (Dok. Pribadi) |
Oleh: Pietro T. M.
Netti
Terlebih dahulu saya ingin mengucapkan “Selamat merayakan
Natal 25 Desember 2014 bagi umat Kristiani di seluruh dunia dan di seluruh
pelosok negeri Indonesia! Kiranya Natal menbawa damai bagi negeri dan seluruh
penghuni negeri ini! Salam Damai Natal untuk kita semua!”
Di tengah-tengah kemeriahan perayaan Natal yang sedang
dirasakan oleh umat Kristiani saat ini, masih saja berkembang wacana boleh atau tidak mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat Kristiani yang
merayakan. Di sana-sini muncul polemik/perdebatan yang berkepanjangan dari
tahun ke tahun. Tulisan singkat ini mungkin terlambat dimuat, karena mungkin
saja perdebatan-perdebatannya sudah lewat, dan mungkin akan muncul lagi di masa
yang sama (masa Natal) di tahun-tahun yang akan datang. Keterlambatan postingan ini semata-mata karena
kesibukan saya yang sangat padat dalam persiapan-persiapan Perayaan Adventus
(masa-masa penantian selama 4 minggu sebelum Natal) dan Perayaan Natal di
gereja.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada saudara-saudara
saya yang Muslim, sebenarnya polemik tentang boleh atau tidak boleh memberi
ucapan “Selamat Natal” tersebut datang dari sekelompok orang dan/atau
organisasi massa (ormas) Islam atau yang mengatasnamakan Islam. Dalam tulisan
ini, saya tidak bermaksud menilai boleh atau
tidak boleh memberi ucapan “Selamat
Natal” sebagai suatu hal yang salah atau
benar, karena menurut saya hal itu
adalah sah-sah saja, walaupun hati kecil saya cenderung mengatakan “apa salahnya memberi ucapan selamat kepada
saudara/sesama kita yang sedang bersukacita merayakan hari raya keagamaan
mereka khususnya umat Kristen yang merayakan Natal”.
Tentu ada alasan mendasar (landasan teologis) yang dianut
oleh orang/kelompok tertentu yang menganggap haram (??) dan secara tegas melarang umatnya dan/atau kelompoknya
untuk sekali-kali tidak memberi ucapan “selamat” khususnya memberi ucapan
“Selamat Natal”. Sebenarnya sejak awal munculnya perdebatan ini, saya
sedikitpun tidak ambil pusing (tidak
peduli), karena itu bukan urusan saya (It’s
none of my business). Jika “urusan anda”
menjadi “urusan saya”, bisa saja saya
dicap turut mencampuri urusan keyakinan/kepercayaan
dan bahkan urusan iman ajaran agama
lain yang memang “bukan urusan saya”.
Saya pun saat ini tidak sedang mengambil urusan anda menjadi urusan saya, sepenuhnya hal boleh
atau tidak boleh memberi ucapan
“Selamat Natal” masih menjadi urusan anda
(it’s totally your business). Hanya saja, kenapa ada orang/kelompok/ormas yang
juga muslim yang merasa boleh memberi
ucapan tersebut. Lagi-lagi hati kecil saya sangat mendukung
orang/kelompok ini. Kelompok ini sedang menunjukkan sikap kemanusiaan dan kebersamaan sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan
yang bermartabat, menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dan budaya dalam sebuah peradaban.
Dan lagi, untuk konteks Indonesia yang ber-bhinneka ini, hati kecil saya merasa layak dan nyaman untuk hidup berdampingan
dengan orang/kelompok ini.
Sebelumnya ada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang
santer terdengar mengharamkan pemberian ucapan “Selamat Natal” kepada umat
Nasrani. Padahal fatwa MUI yang sesungguhnya adalah tentang: “mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram dan agar
umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Swt dianjurkan
untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan perayaan Natal.” (http://www.kabarislam.com/). Tentu di balik fatwa
MUI ini ada sejumlah alasan teologis yang patut/harus dihargai oleh pihak non
muslim khususnya umat Kristiani.
Namun berkaitan dengan memberi ucapan “Selamat Natal” kepada umat Kristen
yang merayakan, cendekiawan Prof. Dr. Sofjan Siregar, MA
berpendapat: “Mengucapkan selamat Natal oleh seorang muslim hukumnya mubah,
dibolehkan. Mengucapkan selamat Natal adalah bagian dari mu’amalah, non-ritual.
Pada prinsipnya semua tindakan non-ritual adalah dibolehkan, kecuali ada nash
ayat atau hadits yang melarang.” (http://www.kabarislam.com/).
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof DR. H. M
Din Syamsuddin MA, mengaku terbiasa mengucapkan selamat Natal kepada pemeluk
Kristen. “Saya tiap tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman
Kristiani,” katanya tahun 2005. (http://www.kabarislam.com/).
Memang masih banyak pro dan kontra tentang permasalahan
ini, tapi melihat keber-bhinneka-an kita, mungkinkah ada rujukan lain yang
kiranya dapat menjaga/memelihara keharmonisan berbangsa dan bernegara? Sebagai pemeluk
Kristen, saya sangat menghargai dan mengapresiasi dua tokoh/cendekiawan Muslim
di atas yang memiliki sikap yang sangat mulia tersebut. Kiranya kedua tokoh
panutan tersebut menjadi teladan bagi segenap umat yang masih pro dan kontra.
Jika yang merasa bahwa dengan memberi ucapan “Selamat Natal” kepada umat Kristiani adalah sebuah
tindakan haram yang diduga kuat akan mendatangkan dosa, maka sebaiknya urungkan
saja niat tersebut. Tapi jika memberi
ucapan “Selamat Natal” sebagai wujud simpati, empati dan toleransi terhadap
sesama umat beragama, dan diyakini tidak mendatangkan dosa, maka lanjutkan.
Sebagai pihak yang merayakan Natal, saya sangat bersyukur kepada Tuhan yang
saya imani dan berterimakasih jika sesama saya baik umat Muslim maupun umat non
Kristen lainnya yang berkenan mengucapkan “Selamat
Natal” kepada saya.
KIranya tulisan ini tidak memberi reaksi negatif kepada
pembaca Kompasiana. Tulisan ini hanya
merupakan sebuah ungkapan hati secara pribadi sebagai Kristen. Ada harapan
besar yang ingin diraih sehubungan dengan hidup dalam kebersamaan, toleransi, kerukunan
dan keharmonisan antar umat beragama khususnya di Indonesia. Saya membayangkan
jika semua agama baik di dunia maupun di Indonesia sama-sama mengeluarkan
fatwa-fatwa yang sama dan sebangun,
maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. “HOME ALONE is better than ALONE TOGETHER at home.”
Mengakhiri tulisan ini, sekali lagi saya ingin mengucapkan:
“Selamat merayakan Natal 25 Desember 2014 bagi umat Kristiani di seluruh dunia
dan di seluruh pelosok negeri Indonesia! Kiranya Natal menbawa damai bagi
negeri dan seluruh penghuni negeri ini! Salam Damai Natal untuk kita semua!
Amin!”
[http://sosbud.kompasiana.com/2014/12/26/salam-damai-natal-untuk-negeri-penghuni-negeri-693675.html]















.jpg)
.jpg)
