September 12, 2014
From This Moment On (Shania Twain)
Oleh: Pietro T. M.
Netti
Tuan Rumah RUMAH
IDE & KREASI
“……from this moment
you are the one……and for your love I’d give my last breath……can’t wait to live
my life with you, can’t wait to start……and you’re the answer to my prayers from
up above……my dreams came true because of you……from this moment on……”
Demikian penggalan-penggalan lirik FROM THIS MOMENT ON yang mencerminkan sisi romantis dari seorang Shania
Twain, artis penyanyi asal Kanada. Sebuah lagu yang mengisyaratkan cinta yang pasti diidam-idamkan oleh
setiap orang yang sedang “jatuh-jatuhan”.
Karena sangat romantisnya, lagu ini selalu menjadi salah
satu lagu wajib yang biasa dinyanyikan pada acara/pesta pernikahan dan pastinya
didedikasikan kepada kedua mempelai yang berbahagia. Lirik lagu selengkapnya:
FROM THIS MOMENT ON:
Berikut ini adalah sekilas cerita tentang lagu From This Moment On:
Kilas Balik Lagu FROM THIS MOMENT ON:
Untuk memberi warna yang berbeda, lagu “From This Moment
On” telah saya arransemen pada 17 Juni 2014 dalam harmoni tiga suara untuk
dinyanyikan secara trio dan/atau vocal grup. Arransemen dibuat dalam
notasi angka berdasarkan rekaman lagu yang ada dengan mencantumkan simbol akord
sistem angka.
Dan hasilnya, pada Jumat, 20 Juni 2014, bertepatan dengan
Pemberkatan dan Resepsi Nikah adik saya, RHYMMA
B. NETTI & ROSSY A. LAY, lagu ini dinyanyikan untuk pertama kalinya
dalam harmoni tiga suara oleh Vocal Group SOLAGRATIA sesaat setelah acara pemberkatan
nikah di Gereja Gunung Sinai Naikolan:
September 9, 2014
Panduan Bermain KJ Edisi Akord Sistem Angka
MENGGUNAKAN
MENU TRANSPOSE PADA KEYBOARD
Oleh:
Pietro T. M. Netti
Tuan Rumah
Rumah Muger Kupang
“Bagaimana
pengaruh penggunan simbol akord dengan angka romawi terhadap tinggi-rendah nada
saat mengiringi kantoria dan/atau jemaat saat bernyanyi?”
KJ Edisi Akord Sistem Angka dapat dipakai sebagai panduan untuk
bermain lagu-lagu yang yang ada di dalam Kidung Jemaat oleh seluruh pemain
musik, baik yang dapat menerapkan permainan dengan semua nada dasar dengan
pasangan-pasangannya, maupun oleh pemain musik yang hanya menguasai permainan
dalam satu dan/atau sebagian nada dasar saja.
Dengan demikian maka untuk pemain musik yang menguasai semua nada
dasar tidak akan mengalami kendala dalam memainkan semua lagu yang ada sesuai
dengan petunjuk nada dasar yang telah dicantumkan, sepanjang pemain musik
tersebut telah menguasai penerapan simbol angka romawi sebagai simbol pengganti
dari jenis/nama akord yang dimainkan. Sehingga secara otomatis kantoria
dan/atau jemaat pun dapat menyanyikan lagu-lagu yang ada dengan tinggi-rendah
nada yang relatif terjangkau dan nyaman.
Sedangkan untuk pemain musik yang hanya bisa memainkan akord dalam
satu atau sebagian nada dasar akan mendatangkan masalah bagi kantoria dan/atau
jemaat dalam hal tinggi-rendah jangkauan nada saat bernyanyi. Hal ini
disebabkan karena semua lagu akan dimainkan hanya dari satu nada dasar, padahal
pencantuman nada dasar yang ada untuk setiap lagu sudah diperhitungkan
sedemikian rupa dengan jangkauan nada dan kenyamanan bernyanyi semua orang
(jemaat) baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak.
Ada satu jalan keluar bagi pemain musik yang hanya menguasai
permainan akord dari satu nada dasar atau dari nada dasar tertentu saja. Pemain
musik harus memperhatikan menu transpose
yang ada pada keyboard elektrik. Menu transpose
digunakan untuk menaikkan dan/atau menurunkan nada untuk disesuaikan dengan
nada dasar yang tertulis. Sayangnya menu transpose
ini tidak terdapat pada alat musik non
elektrik seperti piano atau organ. Jadi disarankan agar pemain musik
yang belum menguasai permainan akord musik dalam berbagai/semua nada dasar
untuk bermain menggunakan alat musik keyboard
elektrik saja.
Contoh penggunaan fasilitas Transpose
pada keyboard elektrik sebagai berikut:
Saat kita mengaktifkan/menekan transpose
akan muncul pada layar Lcd keyboard berupa angka. Posisi angka normal adalah
angka “0” (nol). Pada sebagian besar keyboard, tersedia tombol “-“ (minus/kurang)
dan “+” (plus/tambah). Tombol “-“ (minus) digunakan untuk menurunkan nada mulai dari “-1” (minus 1) sampai “-12” (minus 12),
dan sebaliknya tombol “+” (plus) digunakan untuk menaikkan nada mulai dari 1
sampai 12. Jadi menu transpose dapat dipakai untu menurunkan dan/atau menaikkan
nada sebanyak 12 nada dengan jarak ½ langkah. 12 nada disini adalah jumlah
keseluruhan nada dalam tangga nada
kromatis. Tangga nada kromatis adalah tangga nada dengan jumlah nada
terlengkap yakni terdiri dari 12 nada dengan jarak/interval masing-masing nada
sebesar ½ langkah:
Jika kita hanya bisa bermain dari akord dengan nada dasar do = c, tapi harus mengiringi nyanyian
dari nada dasar do = d, maka kita perlu menghitung berapa jarak/interval nada dari “c” ke “d”. Jarak/interval nada. “c”
ke “d” berjarak 1 langkah, dengan
rincian sebagai berikut: “c” ke “c#” berjarak ½ langkah, “c#” ke “d” berjarak ½ langkah, maka ½ + ½ = 1. Setelah mengetahui jarak
nada tersebut, kita perlu menaikkan dari menu transpose menjadi 2. Mengapa 2,
bukan 1 seperti jarak nada yang baru saja dijelaskan? Transpose harus dinaikkan
ke angka 2 karena angka-angka pada transpose adalah bernilai ½.
Contoh lain: Lagi-lagi, jika kita hanya bisa bermain dari akord
dengan nada dasar do = c, tapi harus
mengiringi nyanyian dari nada dasar do = g, maka kita perlu menghitung
berapa jarak/interval nada dari “c”
ke “g”. Nada “c” ke “g” dapat dihitung
naik maupun dihitung turun. Jika di hitung naik, “c” ke “g” (c-cis-d-dis-e-f-fis-g) berjarak 3 ½
langkah, maka angka pada transpose (yang bernilai ½ tersebut) harus dinaikkan
ke angka 7. Jika di hitung turun dari
nada “c” satu oktaf di atasnya, “c”
ke “g” (c’-b-bes-a-as-g) berjarak hanya 2 ½ langkah, maka angka pada
transpose (yang bernilai ½ tersebut) harus diturunkan ke angka -5 (minus 5).
Langkah yang sama juga dapat diterapkan oleh pemain musik yang hanya bisa
bermain dari nada dasar tertentu lainnya.
Demikian pengoperasian menu transpose untuk menerapkan permainan
musik sesuai dengan nada dasar yang tercantum di setiap lagu/nyanyian. Pada
contoh pertama dan kedua di atas, walaupun sang pemain bermain dengan
menggunakan akord “c = do” tapi
sesungguhnya nada yang dihasilkan adalah nada dasar “do = d” dan “do = g”.
Dalam penggunaan transpose, jarak atau interval yang mau dipakai
dalam menaikkan atau pun menurunkan sebaiknya dilihat jarak/interval yang lebih
dekat. Sebagai contoh, pada contoh nada dasar “do = g” di atas, daripada menaikkan transpose ke angka 7, sebaiknya diturunkan 5 ke angka -5 (cuma
saran, dinaikkan ke angka 7 pun tidak apa-apa, semua terserah pemain musiknya).
Berikut ini adalah table transpose
dengan permainan akord nada dasar “do = c”:
Semoga penjelasan-penjelasan teknis
di atas tentang KJ Edisi Akord Sistem Angka dapat bermanfat bagi kita semua.
Mungkin saja ada diantara kita yang belum bisa memanfaatkan KJ Edisi Akord yang diterbitkan oleh Yamuger secara
baik oleh karena keterbatasan kita dalam penguasaan permainan akord dari semua
nada dasar, mudah-mudahan kehadiran KJ Edisi Akord Sistem Angka ini dapat
membantu dan memberi manfaat kepada banyak pihak untuk bisa bermain musik
secara baik dan teratur terutama dalam penerapan harmonisasi akord yang indah.
AMIN.
September 8, 2014
Tentang KJ Edisi Akord Sistem Angka
Oleh:
Pietro T. M. Netti
Tuan Rumah
RUMAH IDE & KREASI
Judul: Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka.
Karya: Rumah MUGER Kupang (Agustus 2014).
Cover: Pietro T. M. Netti
Judul: Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka.
Karya: Rumah MUGER Kupang (Agustus 2014).
Cover: Pietro T. M. Netti
Simbol akord yang dipakai di Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka adalah simbol-simbol angka romawi I-VII
(I, ii, iii, IV, V, vi, vii) sebagai pengganti jenis-jenis/nama-nama akord
yang sudah dikenal selama ini. Penggunaan angka romawi I-VII didasarkan pada 7 Tingkat Trinada, yakni:
Simbol angka romawi besar (I,
IV, V) adalah simbol trinada/akord mayor yang memiliki hubungan harmonis.
Simbol angka romawi kecil (ii, iii, vi kecuali
vii) adalah simbol trinada/akord
minor yang juga memiliki hubungan harmonis. Angka romawi ke-7 (vii) tidak termasuk di dalam
trinada/akord minor, karena dalam tingkat trinada, tingkat ke-7 vii (si), walaupun disimbolkan dengan
angka romawi kecil, bukanlah trinada/akord minor melainkan sebagai
trinada/akord kurang dan/atau trinada/akord diminish (akan dijelaskan
kemudian).
7 Tingkat Trinada tersebut dapat diterapkan untuk setiap key note atau nada dasar. Nada dasar do = c
misalnya; Trinada/akord C (do)
memiliki hubungan harmonis dengan trinada/akord F (fa) dan trinada/akord G
(sol) yang mana ketiga trinada/akord tersebut adalah trinada/akord mayor.
Dalam penulisan simbol akordnya, trinada/akord C-F-G disimbolkan dengan angka romawi besar I-IV-V (do-fa-sol).
Dalam permainan musik, ketiga trinada/akord di atas sudah dapat
dipakai untuk memainkan sekian banyak lagu yang bernada dasar mayor yang
biasanya ditandai dengan penulisan do = …
(tidak untuk nada dasar minor atau lagu-lagu minor). Nada dasar minor atau
lagu-lagu minor biasa ditandai dengan penulisan la = … Jika dimulai dengan la,
berarti trinada/akordnya pasti diawali pada tingkat trinada ke-6 (la).
Berpatokan pada do = c,
maka tingkat ke-6 adalah la atau a (la = a) dimana trinada/akord A (la) adalah trinada/akord minor yang
biasa ditulis dengan simbol Am (A minor).
Trinada/akord Am (la) memiliki
hubungan harmonis dengan trinada/akord Dm
(re) dan trinada/akord Em (mi).
Dalam penulisan simbol akordnya, trinada/akord Am-Dm-Em disimbolkan dengan angka romawi kecil vi-ii-iii (la-re-mi).
Begitu pula dengan nada dasar lainnya, penggunaan simbol angka
romawi dapat diterapkan dengan tetap memperhatikan 7 tingkat trinada dari nada
dasar tersebut. (Lihat daftar nama pasangan akord).
Pada bagian di dalam KJ Edisi Akord Sistem Angka, terdapat
penulisan simbol angka romawi besar VII. Penulisan simbol VII dalam angka romawi besar tidak merepresentasikan si sebagai tingkat trinada ke-7 atau
sebagai leading note atau
trinada/akord diminish, tetapi si sebagai simbol yang menunjuk pada
pembalikan/inversi tangan kiri (pijakan bass) dari trinada/akord tingkat ke-5 (V atau sol), dan/atau VII (si)
sebagai trinada/akord mayor.
Misalnya; masih dalam nada dasar do = c, jika didapati simbol V/VII
(=G/B), ini berarti akordnya adalah akord
V atau G, dan pijakan bass berada pada nada si atau B. Penyebutan
untuk simbol V/VII adalah 5 (lima) balik 7 (tujuh), atau 5 (lima) per 7 (tujuh), atau sol balik si, atau sol per si. Sama halnya dengan G/B
adalah G balik B, atau G per B. Sebagai pembalikan/pijakan
bass, seluruh simbol pembalikan ditulis dalam angka romawi besar, yang sesungguhnya hanyalah sebagai pijakan not tunggal yang secara spesifik
tidak menunjuk pada harmoni mayor atau pun minor.
Contoh lain Simbol Pembalikan Akord serta penjelannya:
Jenis akord diminish
di dalam KJ Edisi Akord Sistem Angka ini ditulis dengan simbol angka romawi kecil diikuti dengan dim, seperti ivdim, iv#dim, dll.
Penulisan simbol angka romawi kecil pada
akord diminish mengikuti system angka yang ada pada 7 tingkat trinada, karena
walaupun akord diminish tersebut bukan termasuk dalam kelompok akord minor/kecil,
tapi memiliki interval tert kecil layaknya interval di dalan akord minor. Penambahan
kata dim (diminish) hanya untuk
membedakannya dari akord-akord minor, karena, secara keseluruhan, akord
diminish yang ada di dalam KJ Edisi Akord bukan termasuk dalam tingkatan trinada ke-7 dari nada dasar
yang ada.
Berikut ini adalah Daftar Nama dan Pasangan Akord (Pasangan Harmonis) berdasarkan nada dasar, dan Simbol Angka Romawi yang menunjuk pada
nama-nama akord tersebut:
Catatan:
- Penggunaan akord dengan simbol angka romawi berlaku untuk semua nada dasar yang berjumlah 12 nada dasar dari nada dasar do = c berturut-turut sampai dengan do = b. Jumlah 12 nada dasar tersebut sesuai dengan jumlah keseluruhan nada di dalam tangga nada kromatis (c-cis-d-dis-e-f-fis-g-gis-a-ais-b).
- Pada umumnya akord dari pasangan harmonis mayor I-IV-V ditulis dengan angka romawi besar. Jika pada bagian tertentu didapati dengan simbol angka romawi kecil seperti i atau iv atau v, maka akord yang seharusnya adalah akord mayor tersebut telah berubah menjadi akord minor.
- Begitu pun sebaliknya, akord dari pasangan harmonis minor vi-ii-iii ditulis dengan angka romawi kecil. Jika pada bagian tertentu didapati dengan simbol angka romawi besar seperti VI atau II atau III, maka akord yang seharusnya adalah akord minor tersebut telah berubah menjadi akord mayor.
Bersambung
ke: Panduan Bermain KJ Edisi Akord Sistem Angka.
September 5, 2014
Baru..!! Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka
Baru…! Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka: KJ Edisi Akord
dengan simbol Angka Romawi, karya Rumah MUGER Kupang. Semua pemain musik gereja
bisa dengan mudah memainkan seluruh nyanyian yang terhimpun di dalam Kidung
Jemaat dengan penerapan harmoni akord yang indah.
Mungkin ada pemain musik yang berkata: “Saya sudah memiliki KJ
Edisi Akord yang diterbitkan oleh Yamuger, tapi tidak bisa memainkan semua lagu
dengan petunjuk akord yang ada karena saya tidak menguasai permainan akord dari
semua nada dasar!”?
KJ Edisi Akord Sistem Angka adalah solusinya. Karena
simbol/petunjuk akordnya ditulis dalam angka romawi, maka semua pemain musik
dapat dengan mudah memahami dan memainkannya; baik pemain musik yang mahir
memainkan akord dari semua nada dasar, maupun pemain musik yang hanya mahir
memainkan akord dari satu nada dasar.
Inilah kesempatan bagi kita untuk bisa menikmati dan menghadirkan
lagu dan arransemen musik yang indah dari nyanyian-nyanyian yang ada di dalam
Kidung Jemaat melalui KJ Edisi Akord Sistem Angka.
Inilah kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kualitas yang
sebenarnya dari nyanyian-nyanyian Kidung Jemaat yang memiliki harmoni musik
klasik yang indah melalui KJ Edisi Akord Sistem Angka.
KATA
PENGANTAR
Syukur kepada Tuhan atas perkenannan-NYA, penyusunan KIDUNG JEMAAT
Edisi Akord dengan simbol Angka Romawi (KJ Edisi Akord Sistem Angka) bisa
dirampungkan pada Jumat, 15 Agustus 2014.
Penyusunan KJ Edisi Akord Sistem Angka ini dilakukan dalam rangka
menjawab keinginan para pemain musik gereja (pianis/organis atau keyboardis)
yang masih merasa sulit memainkan lagu-lagu dengan petunjuk akord sebagaimana
yang terdapat di dalam KJ Edisi Akord yang diterbitkan oleh Yayasan Musik
Gereja di Indonesia (YAMUGER).
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh sebagian pemain musik
tersebut dikarenakan kemampuan pemain musik yang belum bisa memainkan semua
akord dari berbagai nada dasar (key
note) yang ada. Kesulitan-kesulitan ini sering sekali dialami oleh sebagian
besar pemain musik gereja dengan latar belakang otodidak (belajar sendiri).
Dalam kenyataan, kebanyakan pemain musik otodidak (tidak semua) setelah bisa memainkan alat musik (khususnya
keyboard) dengan akord dari salah satu nada dasar yang dipelajarinya, mereka
enggan melakukan upaya untuk mempelajari permainan akord dari nada dasar yang lainnya. Sehingga mereka
cenderung hanya bisa/mahir memainkan akord
(baik pasangan harmonis maupun pasangan parallel-nya) dari salah satu nada dasar saja.
Sebagai contoh: ada pemain musik (keyboardis) yang hanya bisa
bermain dari nada dasar c = do (atau do = c), maka pemain tersebut akan
sangat sulit memainkan lagu-lagu dalam KJ Edisi Akord yang bertuliskan petunjuk
akord dari nada dasar yang lain (g = do atau
do = g, dan/atau nada dasar lainnya). Begitu pula ada pemain keyboard yang lebih
tertarik untuk bermain dari nada-nada dasar tertentu saja.
Beranjak dari kenyataan tersebut, saya tergerak untuk membantu
para pemain musik gereja yang
kebetulan belum menguasai permainan akord dari semua nada dasar dengan menyusun kembali KJ Edisi Akord yang telah
diterbitkan oleh YAMUGER dengan mengganti penulisan simbol-simbol akord
(nama-nama akord) yang ada ke dalam simbol akord dengan menggunakan simbol angka romawi.
Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang
tulus dan memberi apresiasi yang tinggi atas usaha dan kerja keras dari Tim Penyusun Akord Yamuger yang telah
menyusun KJ Edisi Akord. Sebagai pemain musik gereja, secara pribadi, saya
mendapatkan manfaat yang sangat luar biasa dari kehadiran KJ Edisi Akord ini
dalam menunjang pelayanan saya di bidang musik di Jemaat GMIT Gunung Sinai
Naikolan-Kupang-NTT (Baca juga tulisan tentang: Kidung Jemaat Edisi Akord).
Adapun kelebihan yang dapat diambil dari Kidung Jemaat Edisi Akord
adalah sebagai berikut:
- Setiap lagu memiliki ragam dan akord yang jelas yakni menuliskan notasi angka yang jelas sebagaimana juga yang terdapat pada buku himpunan lagu-lagu KJ pada umumnya dengan mencantumkan secara jelas pula petunjuk/penggunaan akord di setiap lagunya.
- Dari petunjuk/penggunaan akord yang ada, meskipun memiliki harmoni musik yang sederhana, jika dimainkan dengan baik dan benar, setiap lagu memiliki arransemen yang sangat indah. Lagu-lagu KJ sangat sarat dan kaya dengan unsur-unsur harmoni musik klasik, karena memang sebagian besar lagu-lagu KJ diambil dari karya-karya spektakuler komponis-komponis ternama dunia di abad pertengahan yang belum tergantikan hingga saat ini dan bahkan, bisa saja terjadi, tidak tergantikan untuk selama-lamanya.
- Dan lebih dari itu, bila dimainkan dengan baik dan benar, akan sangat menghadirkan nuansa kudus, hikmat, sukacita dan damai sejahtera di dalam memuliakan Allah, serta turut menjaga dan memelihara kekhusukan dalam beribadah kepada ALLAH.
Penyusunan KJ Edisi Akord Sistem Angka (pencantuman akord lagu)
sebagian besar bersumber pada KJ Edisi Akord yang diterbitkan oleh Yamuger.
Semoga kehadiran Kidung Jemaat Edisi Akord Sistem Angka dapat menolong
lebih banyak pemain musik gereja untuk dapat memainkan seluruh lagu yang ada
dalam Kidung Jemaat. (Baca: Tentang KJ Edisi Akord Sistem Angka)
Kupang, 15
Agustus 2014
Rumah
MUGER Kupang
PIETRO T.
M. NETTI
Tuan rumah
Rumah MUGER Kupang
September 1, 2014
Life (Hidup)
Oleh:
Pietro T. M. Netti
Tuan Rumah
RUMAH IDE & KREASI
LIFE
Written by: Garry Mac
Life is wonderful as I walk your way
Jesus, Savior, Lord
I will lift You up, sing a song of praise
Jesus, Savior, Lord
I've got freedom and peace, hope and rest
All the things You do
Liberty and righteousness
I've found myself in You...wo...o...o...o...
Catatan:
Lagu ini adalah salah satu lagu yang
dilombakan pada festival band rohani yang diselenggarakan oleh GSJA (Gereja
Sidang Jemaat Allah) pada awal tahn 1990-an. Tempat pelaksanaan lomba di Kupang
Teater (KT), salah satu bioskop ternama kota Kupang yang sudah 'gulung tikar'.
Festival band ini diikuti oleh band-band dari berbagai denominasi gereja yang
ada di kota Kupang.
Lagu tersebut adalah kategori lagu pilihan
yang dibawakan/dimainkan dengan sangat indah oleh BKS Band, sebuah Band
independen yang sebenarnya tidak mewakili GMIT, tapi disebut-sebut sebagai yang
mewakili GMIT karena semua personil di BKS Band adalah warga GMIT.
Personil BKS Band:
- Peter Netti (keyboard)
- Rudiyanto (Bass Guitar)
- Onny Toelle (Lead Guitar)
- Iwan Welly (Drum)
- Erasmus Pallo (Vocal)
- Ance Dubu (Vocal)
- Debby Rihi (Vocal)
Lagu tersebut telah saya gubah ke dalam versi
bahasa Indonesia dengan judul "HIDUP" pada 28 Juli 2014, dan sedang
dalam proses mengarransemen untuk dinyanyikan secara semi acapela di gereja. (Notes Facebook Peter Netti-30 Juli 2014)
HIDUP
By: Pietro T. M. Netti
Indah hidupku bila bersama
Yesus, Tuhan-ku
'Kan kunyanyikan pujian bagi
Yesus, Tuhan-ku
'Ku dibebaskan, 'ku dib'ri damai, dan
pengharapan
Kelegaan dan kebajikan
Hanya ada pada-Mu....wo...o...o...o
Flying Crocodile Blues
Oleh: Pietro T. M.
Netti
Tuan Rumah RUMAH
IDE & KREASI
FLYING CROCODILE
BLUES
Dedicated to: Mike
“Ausie” & Duin Palunkun
Everybody, May I have your attention,
please...!
I'm gonna tell you...I'm gonna tell you a
thing...
There's a new...there's a new legend in town...
That you've never...never heard it before...
I call it...I'm proud to call it...
"FLYING CROCODILE
BLUES"...yeah..."FLYING CROCODILE BLUES"
Here and there he flies....
He keeps on flying...he keep on flying,
babe....
Just to look for a friend or two, his other
flying mates...
And they're gonna reach...they're gonna reach
the sky...
With the BLUES...with the BLUES in their
hearts....
"Everybody, be ONE HEART in BLUES...be ONE
LOVE in BLUES...!
Come on...come on..! Let's have a BLUES...sing
it, babe..!
Never SAY DIE to BLUES..! Coz it never...NEVER
HURTS you, babe..!
Now the only thing...the only thing to remember
is that:
Never...never...never SAY SORRY to
BLUES...!"
Naikolan, 260406
Catatan:
Lagu
di atas adalah sebuah lagu Blues yang diciptakan pada 26 April 2006 silam. Lagu
ini saya persembahkan kepada DUIN PALUNGKUN & MIKE.
Berawal
dari pertemuan yang tidak disengaja di Restaurant Serenity-Kupang antara saya,
Duin Palungkun dan Mike yang akhirnya menjadi pertemuan yang sangat berkesan
yang menyisakan kenangan BLUES terindah. Jam Session Blues antara Duin
(harmonika & gitar), Mike (harmonika) & saya (keyboard).
Duin
Palungkun adalah seorang Pengacara di Kota Kupang yang memiliki pengalaman
bermusik di Toraja & Makasar. Ia pandai bernyanyi, memainkan gitar dan
(terlebih) piawai dalam memainkan harmonika.
Mike
adalah pengunjung restaurant asal Autralia (Ausie) yang sangat mahir memainkan
alat musik harmonika. Kemanapun ia pergi (terbang) satu set perlengkapan
harmonika selalu dibawanya. Ia sangat mahir memainkan improvisasi blues yang
sangat indah & memukau dengan harmonikanya.
Oleh
sebab itu, saya langsung menyebutnya sebagai "Ausie's Crocodile
Blues". Saya tidak peduli arti sesungguhnya dari frasa "Crocodile
Blues" itu apa, saya secara spontan senang menyebutnya demikian. Dan
kemudian saya terinspirasi untuk menciptakan lagu blues dengan judul
"FLYING CROCODILE BLUES".
(Diposting di Notes Facebook Peter Netti-16 Juli 2014)






















